Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Aksi Solidaritas untuk Andrie Yunus Digelar di UII Cik Di Tiro Jogja, Aktivis hingga Komika Suarakan Perlawanan terhadap Teror

Fahmi Fahriza • Senin, 16 Maret 2026 | 21:08 WIB

Sesi orasi politik dan open mic yang digagas Forum Cik Di Tiro dan Jogja Memanggil, sebagai aksi solidaritas terhadap aktivis Andrie Yunus yang disiram air keras.
Sesi orasi politik dan open mic yang digagas Forum Cik Di Tiro dan Jogja Memanggil, sebagai aksi solidaritas terhadap aktivis Andrie Yunus yang disiram air keras.

 

 

JOGJA - Forum Cik Di Tiro bersama jaringan Jogja Memanggil menggelar aksi Open Mic Solidarity terhadap Andrie Yunus di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Cik Di Tiro, Senin (16/3). Kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus yang menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal.


Aksi menghadirkan berbagai bentuk ekspresi solidaritas, mulai orasi politik, sesi open mic, hingga penampilan seni dari sejumlah aktivis, seniman, dan masyarakat sipil. Sejumlah tokoh dijadwalkan hadir memberikan orasi, salah satunya aktivis senior Busyro Muqoddas.
Namun dari pantauan langsung Radar Jogja di lokasi sekaligus dikonfirmasi oleh panitia, menyatakan Busyro Muqoddas tidak jadi hadir ke acara tersebut.


Perwakilan Forum Cik Di Tiro Marsinah mengatakan, kegiatan ini digelar sebagai respons atas teror yang dialami Andrie Yunus. Menurutnya, kekerasan terhadap pembela HAM merupakan ancaman serius bagi demokrasi.


"Kami bersolidaritas pada teror penyiraman air keras kepada Andrie. Kami merasa penting merespons ini karena tindakan itu melanggar prinsip-prinsip HAM, dan bertentangan dengan prinsip negara dalam melindungi warganya untuk bersuara," ujarnya.


Marsinah menilai, serangan terhadap Andrie tidak bisa dipandang sebagai kasus biasa. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap aktivis yang selama ini kritis terhadap berbagai kebijakan negara.


"Ini menjadi alarm keras bagi kami bahwa negara hadir secara terbuka untuk melakukan perlawanan terhadap siapa pun yang kritis terhadap negara. Kami menyatakan tidak bisa diam dan harus terus menyuarakan keberpihakan pada siapa pun yang mengalami teror," katanya.


Forum Cik Di Tiro dan Jogja Memanggil memastikan solidaritas terhadap Andrie Yunus tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Mereka berencana melanjutkan konsolidasi gerakan bersama berbagai elemen masyarakat sipil setelah Idul Fitri.


"Aksi ini bagian dari pendidikan politik bahwa kita tidak boleh takut bersuara meskipun situasi represi terus terjadi. Jangan takut menjadi aktivis, jangan takut melawan ketidakadilan," kata Marsinah.


Di sisi lain, salah seorang aktivis yang turut hadir dalam forum ini Tri Wahyu mengatakan kegiatan ini sengaja dirancang terbuka agar berbagai kalangan dapat menyampaikan pandangan dan kegelisahannya.


"Ini bagian dari kita membuka ruang. Siapa pun yang berkomitmen untuk mengutuk penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS bisa menyampaikan sikapnya. Serangan itu bukan hanya ke KontraS, tapi ke kita semua," kata Tri Wahyu.


Ia juga menegaskan, peristiwa tersebut harus diusut secara serius oleh aparat penegak hukum. Menurutnya, kasus teror terhadap pembela HAM tidak boleh berlarut-larut seperti beberapa kasus sebelumnya.


"Kami memberi pesan pada polisi agar tidak berlarut-larut mengungkap kasus ini. Bukan hanya pelakunya, tapi juga aktor intelektual di baliknya harus diungkap," tegasnya.


Selain orasi politik, kegiatan ini juga diisi dengan penampilan seni, termasuk stand up comedy. Salah satu komika yang tampil adalah Dodok Jogja dari komunitas Stand Up Indo Jogja.
Dodok mengatakan ia menyampaikan kritik melalui komedi dengan membandingkan sikap komika dengan pelaku teror.


"Kalau komika itu tetap di panggung sampai selesai, mau lucu atau tidak tetap ditanggung sendiri. Tapi kalau pelaku penyiraman air keras ini beda, nyiram lalu kabur. Itu menurut saya pengecut," kata Dodok dalam bit komedinya.


Menurut Dodok, kritik terhadap negara merupakan bentuk kepedulian warga negara yang turut membiayai jalannya pemerintahan melalui pajak.

"Saya memposisikan diri sebagai rakyat yang membayar pajak. Artinya kita ikut iuran untuk negara ini. Jadi ketika ada yang tidak benar, ya wajar kalau kita menegur," katanya.


Selain itu, ia juga menambahkan, komedi sering kali lahir dari keresahan sosial yang dirasakan masyarakat. "Semakin kita kritis terhadap negara ini berarti sebesar itu cinta kita kepada negara. Karena kalau kita tidak peduli, ya kita diam saja," ucapnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Orasi #open mic #UII #Forum #Seni #HAM #solidaritas #aktivis