Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

"Kalau Sekolah, Siapa yang Merawat Ibu?" Kisah Tri Fendi, Jagoan Matematika yang Berhenti Sekolah Jadi Perawat Ibu di Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Senin, 16 Maret 2026 | 20:55 WIB

 

PILIHAN: Fandi memilih meninggalkan pelajaran matematika yang paling ia sukai di bangku kelas satu SD demi merawat ibunya di rumah yang terbaring sakit.
PILIHAN: Fandi memilih meninggalkan pelajaran matematika yang paling ia sukai di bangku kelas satu SD demi merawat ibunya di rumah yang terbaring sakit.

GUNUNGKIDUL - Langit nampak mendung di atas rumah sederhana di Padukuhan Jeruken RT 06, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang. Di situ, seorang bocah laki-laki 10 tahun berjalan pelan.

Namanya Ahmad Tri Efendi yang akrab dipanggil Fendi. Dulu ia sering mendapat nilai 100 untuk pelajaran matematika. Namun, kini angka, hitung-hitungan, dan bangku sekolah itu telah lama ditinggalkan. Sejak empat tahun terakhir, Fendi memilih berhenti sekolah untuk merawat ibunya yang terbaring sakit.

Saat ditemui di rumahnya, Fendi awalnya terlihat bermain bersama teman-temannya. Ketika disambangi, ia mendekat dengan langkah pelan sambil sedikit menundukkan kepala. Pembicaraan dimulai seperti obrolan biasa dengan teman. Suaranya lirih. Kalimatnya kadang terputus-putus. Namun, ketika diajak bercanda, senyumnya melebar seperti anak-anak pada umumnya.


Fendi bercerita tiga hari terakhir rumahnya sering didatangi banyak orang. Ia pun berperan seperti tuan rumah kecil, menemani tamu dan menjawab pertanyaan yang datang silih berganti. “Banyak yang datang ke sini,” ucapnya pelan, Minggu (15/3).


Padahal bocah kelahiran 2015 itu seharusnya kini duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Namun saat menginjak kelas dua, ia memilih berhenti sekolah. Keputusan itu bukan karena malas belajar. Ia berhenti demi merawat ibunya Siaminah, 46, yang menderita stroke dan kebutaan.
Fendi pun dikenal sebagai murid yang cukup menonjol di sekolah. Terutama dalam pelajaran berhitung. "Saya dulu sering dapat nilai 100 di matematika. Suka hitung-hitungan,” ujarnya sambil tertunduk.


Ia mengaku sangat menyukai angka. Setiap pelajaran berhitung, nilainya hampir selalu sempurna. Selain belajar, Fendi juga anak yang gemar bermain. Ia menyukai sepak bola dan mengidolakan Cristiano Ronaldo.


Jika memiliki waktu luang, ia menonton pertandingan sepak bola melalui telepon genggam. Namun semua berubah ketika kondisi kesehatan ibunya memburuk. “Iya, tidak lanjut sekolah, ingin merawat ibu,” tegasnya.


Hari-hari Fendi kini dihabiskan di rumah yang ditempatinya bersama keluarga. Rumah itu berdinding batako yang belum diplester dengan lantai semen sederhana. Rumah itu dibangun ayahnya, Slamet, 54, saat masih bekerja sebagai buruh bangunan. Dari hasil kerja kerasnya, sebuah rumah sederhana akhirnya berdiri untuk keluarga kecil itu.


Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tak lama setelah rumah selesai diperbaiki, kondisi kesehatan Siaminah mulai menurun. Ia terserang stroke dan mengalami gangguan saraf mata hingga kehilangan penglihatan. Dua tahun setelah sang ibu sakit, ayah Fendi juga mengalami gangguan saraf yang membuatnya tidak lagi mampu bekerja secara normal.


Di rumah itulah Fendi menjalani peran yang jauh melampaui usianya. Ia membantu ayahnya merawat ibunya setiap hari.“Bapak yang nyuapin ibu,” katanya. “Saya bantu ibu kalau mau minum, megangin ibu kalau mau duduk,” lanjut dia.


Kadang ia hanya duduk di samping ibunya, menemaninya agar tidak merasa sendirian. Ada satu hal sederhana yang selalu membuatnya bahagia. Menurut Fendi, ibunya sering tersenyum ketika ia membantu merawatnya. “Saya senang kalau lihat ibu senyum,” ujarnya.


Sementara itu, Ketua RT 06/RW 09 Padukuhan Jeruken Wahono menjelaskan, Fendi merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya Wahyu Adi Saputra, 23, kini bekerja di Berbah setelah lulus sekolah menengah pertama dan menjadi tulang punggung keluarga.


Sementara kakak keduanya masih bersekolah di tingkat SMP. Awalnya Fendi masih sempat bersekolah hingga kelas satu. Namun ketika ibunya sakit, dukungan pendidikan dari keluarga menjadi berkurang karena kedua orang tuanya mengalami masalah kesehatan. “Anaknya akhirnya memilih di rumah untuk menunggu dan merawat ibunya,” sambung Wahono.


Menurutnya, keluarga, warga, bahkan pihak sekolah sempat berusaha membujuk Fendi agar kembali belajar. Ada pula tawaran agar ia tinggal di panti asuhan di Bantul dengan fasilitas pendidikan gratis. Namun Fendi menolak. Ia tidak ingin jauh dari ibunya. “Kalau di panti asuhan pulangnya paling setahun sekali,” kata Wahono.


Pemkab Gunungkidul telah memastikan hak pendidikan bagi Fandi dan kakanya akan terpenuhi sampai tuntas. Saat ditanya tentang keinginannya melanjutkan sekolah, Fandi terdiam cukup lama.


Matanya nampak begitu ragu untuk bocah seumurannya. Lagi-lagi, dengan suara lirih, ia mengaku masih belum mau melanjutkan sekolah. “Kalau sekolah, siapa nanti yang merawat ibu?,” ujarnya lirih. (bas/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Gunungkidul #Kesehatan #kerja keras #Panggang