Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masjid Jenderal Soedirman di Demangan Baru Sleman, Terus Jadi Wadah Semangat Aktivis Muslim Suarakan Aspirasi

Delima Purnamasari • Jumat, 6 Maret 2026 | 22:25 WIB

MASIH ASLI: Masjid Jenderal Soedirman (MJS) yang berlokasi di Jalan rajawali, kompleks Kolombo, Demangan Baru, Depok.
MASIH ASLI: Masjid Jenderal Soedirman (MJS) yang berlokasi di Jalan rajawali, kompleks Kolombo, Demangan Baru, Depok.

 

 

 

SLEMAN - Masjid Jenderal Soedirman (MJS) dibangun pada 1974 dan bentuk bangunannya belum mengalami renovasi hingga kini. Masjid di Jalan Rajawali, Kompleks Kolombo, Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, ini dikenal sebagai tempatnya anak muda untuk belajar ngaji. Tidak sebatas membaca Alquran, tetapi juga belajar berbagai keilmuan islam secara luas.

 Ketua Bidang Kajian dan Media MJS Nur Wahid menjelaskan, ada tiga nilai yang menjadi visi masjid. Terdiri dari spiritualitas, intelektual, dan kebudayaan. Tiga nilai ini yang pada akhirnya jadi gambaran besar untuk membuat berbagai kegiatan masjid.

Dalam nilai spiritualitas ada ngaji-ngaji tasawuf dan kitab-kitab. Dalam intelektualitas berarti melakukan kajian-kajian akademik yang mungkin biasanya hanya dilakukan di kampus, seperti ngaji filsafat, ngaji pasca-kolonial, dan studi Alquran dengan pendekatan ilmu sosial.

Sementara kebudayaan ada ngaji serat Jawa dan ngaji macapat. Hal ini untuk mengontekskan lokasi masjid yang berada di wilayah DIJ. "Seperti namanya Masjid Jenderal Soedirman. Kami ingin mengambil spirit perjuangannya," katanya ditemui di ruang sekretariat MJS, Jumat (6/3).

Nur menyebut, lewat berbagai kegiatan yang digelar memang audiens jamaah mayoritas dari mahasiswa. Meski demikian, untuk kegiatan spritual dan peribadatan jamaah juga banyak yang berasal dari masyarakat umum dan warga sekitar.

Kegiatan-kegiatan digelar memang tidak bisa lepas dari sejarah MJS sendiri. Pada periode tahun 90-an, masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para aktivis Islam untuk menyuarakan aspirasinya. Kerasnya MJS bahkan jadi tempat terbitan buletin Ar-Risalah yang dilarang pemerintah.

Pasca-penggrebekan, aktivisme masjid berubah haluan dan mengarah pada semangat pendidikan. Hal ini diwujudkan dengan pembentukan Pengajian Anak-Anak Sudirman (PAS), semacam Taman Pendidikan Alquran masa kini.

"PAS itu sangat keren bagi saya karena mereka sudah punya ide, punya gagasan, tulisan, sampai pertanggungjawaban. Itu sangat terukur," katanya.

Sementara fase ketiga yakni dari tahun 2000-an hingga kini, aktivitas masjid bergerak dalam tiga nilai tadi. Nilai-nilai ini adalah upaya memakmurkan MJS sekaligus menunjukkan bahwa masjid tak sekadar sebagai tempat sujud. Namun, tempat kaji dan ngaji.

Para takmir berupaya merancang kegiatan yang belum digarap oleh masjid lain. "Nuansa aktivisme itu masih dijaga, cuma beda geraknya. Dari dulu yang disetel agak keras mengkritik, lalu ke arah pendidikan, dan kini intelektualan," tambahnya.

Saat ini, Nur mengaku MJS juga tengah fokus dalam program literasi masjid. Di dalamnya ada penerbitan, kelas menulis, ada situs web yang dikelola. Teman-teman santri yang tergabung dalam komunitas literasi masjid inilah yang menggerakan program ini. Dengan berbagai karya, seperti buletin dan buku.

Khusus untuk bulan Ramadan sendiri, MJS membuat program NgabubuRead, program belajar tafsir, hingga bazar buku. Kegiatan ini turut menyediaka buka gratis dengan porsi hingga 500 piring.

"Tahun ini 20 hari pertama masak dan disediakan piring dan sisanya nasi kotak. Beda tahun lalu yang setengah masak setengah nasi kotak. Ini juga berpengaruh sama sampah," ungkapnya. (del/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Mahasiswa #renovasi #tasawuf #aktivis Islam #komunitas #Masjid Jenderal Soedirman #belajar ngaji