Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ramai Menu Kering MBG Ramadan, Ahli Gizi UGM Sayangkan Banyak Penyajian UPF yang Kandung Bahan Pengawet sehingga Picu Penyakit Metabolik

Adib Lazwar Irkhami • Selasa, 3 Maret 2026 | 19:58 WIB

Rio Jati Kusuma, Ahli gizi, dosen dan peneliti FKKMK UGM.
Rio Jati Kusuma, Ahli gizi, dosen dan peneliti FKKMK UGM.

JOGJA - Menu-menu yang disajikan dalam program makan bergizi gratis (MBG) tidak hentinya menjadi sorotan publik. Terlebih berkaitan dengan kandungan gizi pada makanan kering selama bulan Ramadan ini. Ahli Gizi UGM Rio Jati Kusuma memberikan penjelasan.


Rio mengatakan, setiap tenaga gizi yang terlibat dalam program MBG seharusnya sudah dibekali kemampuan teknis untuk menghitung nilai gizi secara akurat. Sepengetahuannya, ada dua metode yang dilakukan dalam setiap penghitungan kandungan gizi makanan.


Pertama, analisis secara langsung menggunakan perangkat laboratorium seperti bomb calorimeter untuk mengukur kalori. Lalu teknik Kjeldahl untuk protein, dan Soxhlet untuk lemak. Metode itu biasanya dilakukan oleh perusahaan besar untuk mencapai hasil yang presisi.


Metode kedua menggunakan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Metode ini bisa dilakukan oleh masyarakat umum karena penjelasan soal kandungan gizi bahan makanan bisa diakses melalui website resmi milik pemerintah.


"Semua sudah detail, mulai dari telur puyuh hingga bahan lainnya, sudah ada penjelasan terkait data protein, lemak, hingga vitaminnya," ujar Rio kepada Radar Jogja, Selasa (3/3).


Dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM ini menegaskan, selama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melibatkan tenaga gizi profesional maka klaim kandungan gizi pada label gizi di menu MBG seharusnya dapat dipertanggungjawabkan.


Kendati begitu, dia memberi catatan terkait masih banyaknya pengelola MBG yang menggunakan ultra processed food (UPF) pada menu yang diberikan kepada anak-anak. Misalnya memberikan susu UHT berasa coklat dan stroberi, nugget, sosis, hingga roti dengan margarin tinggi lemak trans.


Menurut Rio, UPF menjadi pemicu utama penyakit metabolik. Sebab, karakteristiknya yang tinggi kalori, tinggi lemak jenuh, tinggi lemak trans, serta mengandung gula tambahan yang seringkali tersembunyi.


"Studi menunjukkan adanya kaitan erat antara konsumsi UPF dengan peningkatan risiko penyakit seperti diabetes melitus, jantung koroner, dan obesitas pada remaja," jelasnya.


Sebagai bentuk evaluasi, Rio menyarankan agar SPPG memberikan bahan makanan kepada orang tua atau sekolah agar bisa diolah sendiri. Dibanding memberikan makanan yang masuk kategori UPF atau pabrikan yang biasanya mengandung pengawet.

Baca Juga: Banyak Jemaah Inginkan Iktikaf di Mekkah, Terdekat  Berangkat Pekan Depan: Amphuri Pastikan Perjalanan Umrah Jemaah DIY Masih Aman


Dia menilai, bahan makanan (real food) yang diolah mandiri juga cenderung memiliki kandungan garam yang lebih rendah dan tanpa gula tambahan. Kelebihan lain, sekolah atau orang tua juga bisa ikut mengawasi pengolahan makanan.
"Jika makanan dimasak secara rumahan atau melalui kantin sekolah dengan pengawasan, cita rasanya lebih alami dan lebih sehat bagi anak-anak," tambahnya.

 

Sudah Memenuhi Kecukupan Gizi

Radar Jogja meminta Rio agar menilai gizi dari foto menu MBG yang beredar di Jogjakarta. Satu sampel foto menu MBG berasal dari Kapanewon Turi, Sleman dengan makanan terdiri perkedel ayam isi keju, tahu walik kering, dan puding melon. Dalam foto itu disampaikan komposisi energi 389,2 kkal, protein 13,4 gram, lemak 11,7 gram, karbohidrat 54,3 gram, dan serat 2,9 gram.


Kemudian sampel foto kedua dari Kemantren Mergangsan, Kota Jogja dengan jenis makanan yang diberikan corn ribs, telur puyuh, susu, dan kurma. Nilai kandungan gizi untuk porsi kecil berupa energi 351,7 kkal, protein 8,6 gram, lemak 18,5 gram, karbohidrat 40,5 gram, dan serat 3 gram. Sementara porsi besar terdiri energi 432 kkal, protein 11,4 gram, lemak 20,6 gram, karbohidrat 56,5 gram, dan serat 5,4 gram.


Rio menilai kandungan gizi pada dua menu MBG tersebut sudah sesuai. Lantaran yang tertera untuk keseluruhan makanan bukan per bagian jenis makanan.


Sementara dari angka kecukupan gizi (AKG), dia menyebut perlu disesuaikan tabel angka kecukupan gizi. Sebab kebutuhan gizi anak berbeda-beda tergantung dari usia, berat badan, tinggi badan, hingga jenis kelamin.


Misalnya untuk anak usia 7 sampai 9 tahun dengan berat 27 kilogram dan tinggi 130 sentimeter membutuhkan kalori sebesar 1.650 kkal, protein 40 gram, lemak 55 gram, omega3 0.9 gram omega6 10 gram, karbohidrat 250 gram, serat 23 gram, air 1650 mililiter.


Sementara anak usia 13 – 15 tahun dengan berat 50 kilogram tinggi 163 sentimeter membutuhkan kalori 2.400 kkal, protein 70 gram, lemak 80 gram, karbohidrat 350 gram, serat 34 gram, dan air 2.100 mililiter.


Rio menjelaskan, tabel angka kecukupan gizi anak itu dibagi tiga kali makan. Contohnya jika kebutuhan kalori anak usia 7-9 tahun 1.650 kkal, maka satu kali makan harus memiliki kandungan kalori minimal 550 kkal.


"Karena MBG hanya untuk satu kali makan (makan siang), maka nanti nilai gizinya tinggal dipresentasikan dengan nilai AKG anak dibagi tiga,” jelasnya. (inu/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Menu MBG #kalori #UGM #Mbg #kandungan gizi #pengawet #SPPG