BANTUL - Masjid Pajimatan yang berada di kawasan kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri menjadi salah satu saksi penting perjalanan sejarah Islam di Bumi Mataram. Masjid itu hingga kini masih digunakan untuk aktivitas ibadah masyarakat, sekaligus menyimpan kisah panjang sejak masa "pemerintahan" Sultan Agung.
“Masjid Pajimatan itu dibuat oleh Sultan Agung. Jadi pada tahun 1612–1632 itu mulai pembangunan masjid,” ujar abdi dalem makam Imogiri sekaligus marbot Masjid Pajimatan, Musthofa, saat ditemui Radar Jogja di Masjid Pajimatan, Jumat (27/2).
Setelah selesai dibangun, masjid awalnya digunakan sebagai tempat salat para pekerja yang membangun kawasan makam raja-raja. Seiring waktu, kemudian dimanfaatkan untuk masyarakat di Padukuhan Pajimatan. Saat itu, wilayah Pajimatan belum memiliki masjid lain.
"Karena dulu zaman Sultan Agung, daerah dusun sini belum ada masjid. Ya, ini masjid pertama, usianya sudah hampir 400 tahun," katanya.
Sejak awal, Masjid Pajimatan digunakan untuk berbagai kegiatan ibadah. Selain salat lima waktu dan salat Jumat, masjid ini juga menjadi tempat pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha sejak dulu hingga sekarang.
Terkait keterlibatan Sultan Agung, Musthofa meyakini raja Mataram itu pernah datang ke Masjid Pajimatan. "Yang jelas pasti pernah ke sini, karena beliau yang membuat masjid ini,” ucapnya.
Masjid Pajimatan juga memiliki keterkaitan erat dengan syiar Islam pada masa Sultan Agung. Menurut Musthofa, Sultan Agung tidak hanya dikenal sebagai raja, tetapi juga ulama dan wali yang aktif menyebarkan ajaran Islam, salah satunya melalui pendekatan budaya seperti wayang.
"Zaman Sultan Agung itu senang membuat masjid. Sebelum membuat makam, beliau membuat masjid dulu. Karena yang utama itu kan untuk sembahyang,” jelasnya.
Masjid ini juga menjadi saksi perjuangan pada masa kolonial. Di sekitar bangunan masjid masih ditemukan bekas peluru dari zaman Belanda. Kala itu, masjid sempat dicurigai sebagai tempat persembunyian. "Makanya masih ada juga bekas pelurunya. Jadi ini saksi perjuangan,” katanya.
Dalam sejarahnya, persoalan air juga menjadi tantangan. Dulu belum terdapat sumur di sekitar masjid. Air diperoleh dari mata air Bengkung di wilayah Mangunan, yang dialirkan ke masjid menggunakan pipa. Terdapat pula sendang di bawah kawasan masjid sebagai sumber air alternatif.
Tradisi khas juga masih dilestarikan hingga kini, terutama saat Idul Fitri dan Idul Adha. Salah satunya penyediaan lemper bagi jamaah. "Kalau di sini pasti dibuatkan lemper. Rasanya beda, khas Masjid Pajimatan,” ungkap Musthofa.
Jumlah lemper yang disiapkan bisa mencapai ratusan setiap perayaan hari besar Islam.
Secara fisik, Masjid Pajimatan memiliki ciri khas berbeda dengan masjid pada umumnya. Bangunannya menyerupai rumah tanpa kubah, dengan struktur utama dari kayu jati. Meski telah direhabilitasi, bentuk asli masjid tetap dipertahankan.
Beduk masjid juga memiliki keunikan tersendiri. Pada masa lalu sebelum adanya pengeras suara, beduk ditempatkan di dekat kolam berisi air. Air itu membantu memperkuat gema suara beduk agar terdengar hingga ke wilayah sekitar sebagai penanda waktu salat.
Saat pelaksanaan salat Idul Fitri, jamaah bisa mencapai ratusan orang. "Kalau Lebaran bisa sampai pendapa. Kurang lebih 700 sampai 800 orang, bahkan bisa seribuan,” katanya.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Pajimatan memiliki fungsi khusus dalam tradisi keraton. Setiap raja atau tokoh yang akan dimakamkan di kompleks Imogiri terlebih dahulu disalatkan di serambi masjid kagungan dalem ini, termasuk Sultan Agung.
Untuk aktivitas harian, salat berjamaah tetap berlangsung meski jumlah jamaah tidak sebanyak dulu. Keramaian biasanya meningkat pada bulan Ramadan. Di pertengahan Ramadan, masjid rutin menggelar pengajian Nuzulul Quran yang diikuti masyarakat sekitar. "Kalau bulan Ramadan pasti ada pengajian. Itu sudah rutin diadakan di sini," ungkapnya. (cin/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita