Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengamat Soroti Ekonomi Tumbuh di Bulan Ramadan, Mahasiswa di Jogja Turut Merasakan Dampaknya

Fahmi Fahriza • Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:12 WIB

 

Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo.
Pengamat ekonomi sekaligus dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo.
 

 JOGJA - Momentum Ramadan dipercayai kembali menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat. Peningkatan konsumsi saat Ramadan dan menjelang Lebaran dinilai sebagai siklus tahunan yang wajar dan justru membantu menjaga perputaran ekonomi, termasuk di sektor riil dan usaha mikro.

Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y. Sri Susilo, mengatakan lonjakan belanja masyarakat menjelang Ramadan dan Lebaran merupakan pola musiman yang selalu terjadi setiap tahun.

"Setiap menjelang Ramadan, Lebaran konsumsi masyarakat memang meningkat. Itu hal yang normal dan justru menjadi motor penggerak ekonomi," ujarnya, Sabtu (28/2).

Namun demikian, ia melihat adanya perubahan yang cukup positif perilaku masyarakat yang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

"Sekarang masyarakat relatif lebih sadar dalam mengatur keuangan. Mereka tetap belanja, tetapi lebih terukur sesuai kemampuan. Itu bagus karena konsumsi tetap jalan, tapi tidak berlebihan," jelasnya.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu menahan konsumsi secara ekstrem karena belanja rumah tangga memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Yang terpenting adalah pengeluaran dilakukan sesuai kebutuhan dan anggaran.

"Kalau semua orang terlalu menahan diri, ekonomi bisa melambat. Silakan konsumsi, tapi secukupnya saja. Jangan sampai melebihi kemampuan," tambahnya.

Di sisi lain, Susilo juga menyoroti maraknya kegiatan sosial seperti pembagian takjil dan buka puasa gratis di berbagai masjid juga memberi dampak ekonomi tersendiri. Permintaan terhadap makanan, minuman, hingga bahan pokok meningkat karena banyak takjil dipesan dari pelaku UMKM.

Susilo menilai fenomena ini menjadi penggerak ekonomi akar rumput. "Kegiatan sosial seperti bagi takjil itu secara tidak langsung menghidupkan pelaku usaha kecil. Ada yang memasok makanan, minuman, sampai kebutuhan logistiknya. Jadi ada multiplier effect di situ," katanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi melalui konsumsi masyarakat. Tetapi juga menghadirkan solidaritas sosial yang berdampak pada efisiensi pengeluaran, khususnya bagi mahasiswa dan kelompok perantau.

"Dengan pola konsumsi yang lebih bijak, Ramadan diharapkan tetap menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi tanpa membebani kondisi keuangan masyarakat," paparnya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa UNY Fajar Nugroho mengaku pengeluarannya selama Ramadan justru lebih terkendali dibanding bulan biasa. Ia mengatakan banyak masjid di sekitar tempat tinggalnya menyediakan buka puasa, bahkan sahur gratis.

"Lumayan sekali membantu. Hampir setiap hari ada takjil atau buka bersama gratis di masjid dekat kos. Jadi pengeluaran makan bisa ditekan," ujarnya.

Ia memperkirakan pengeluaran bulanannya bisa berkurang cukup signifikan karena tidak perlu membeli makan malam setiap hari.

"Biasanya selalu mengeluarkan biaya makan. Tapi selama Ramadan ini bisa lebih hemat karena sering buka dan sahur di masjid bersama warga," tambahnya.

Meski demikian, ia tetap menyisihkan anggaran untuk kebutuhan lain seperti transportasi dan keperluan kuliah. "Uangnya saya sisihkan. Nanti kalau ada keperluan lain yang mendesak barangkali," ungkapnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Mahasiswa #keuangan #UNY #ekonomi nasional #ramadan #UAJY