JOGJA - Permulaan atau hari pertama Ramadan tahun ini kembali terjadi perbedaan. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan hari pertama puasa pada Rabu (18/2) ini. Pemerintah, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), melalui Sidang Isbat menetapkan awal Ramadan pada Kamis (19/2) besok.
PP Muhammadiyah menanggapi perdebatan jatuhnya awal Ramadan tahun ini dengan mengajak masyarakat untuk menyikapinya dengan cerdas dan tasamuh. Perbedaan merupakan hal biasa dan sering terjadi. Terlebih, umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, waktu mengawali puasa berpotensi berbeda baik di Indonesia maupun di dunia. Perbedaan hari-hari besar umat Islam itu akan terus terjadi jika umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal.
"Di situlah ruang ijtihad, tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri," ujarnya dalam keterangan tertulis Selasa (17/2).
Dikatakan, Muhammadiyah telah mengumumkan awal Ramadan jatuh pada Rabu (18/2). Ibadah tarawih awal akan dilaksanakan Selasa tadi malam (17/2). Potensi perbedaan dengan umat Islam lainnya diminta untuk disikapi dengan arif bijaksana.
"Puasa itu tujuan utamanya untuk meningkatkan takwa, baik pribadi maupun kolektif. Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap muslim benar-benar menggapai ketaqwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta menghadirkan kebaikan hidup serba utama," ujarnya.
Peningkatan takwa kepada Allah SWT itu, diharapkan juga meningkatkan hubungan sosial kemasyarakatan menjadi lebih baik. Kebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta perlu dilakukan oleh seluruh masyarakat. Perbedaan awal Ramadan jangan sampai mengganggu ibadah umat Islam.
"Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menyebar segala kebaikan yang makin luas,” tambahnya.
Puasa Ramadan diharapkan menjaga dan memperbaiki akhlak manusia. Puasa menjadi wahana perbaikan karakter dan kemampuan kaum muslim menjadi umat yang lebih baik.
"Jika umat Islam masih begini-begini saja, yakni tidak naik kelas menjadi umat terbaik, maka kejayaan, martabat, dan perlombaan untuk menciptakan peradaban maju sulit dimenangkan," ucapnya.
Dikatakan, ibadah puasa juga dimaknai sebagai kanopi sosial yang tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa melatih seseorang untuk menahan diri dari seseorang yang mengajak berkonflik atau bertengkar. Itu merupakan implementasi dari menahan nafsu dan hasrat yang merusak kerekatan sosial, termasuk mengajari muslim untuk bersabar.
"Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka, puasa harus menjadi kanopi sosial kita," jelas Haedar. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun