RADAR JOGJA – Kasus infeksi virus Nipah kembali dilaporkan di India, tepatnya di negara bagian West Bengal pada akhir Januari 2026.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dua kasus terkonfirmasi terjadi pada tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit swasta di Barasat, Distrik North 24 Parganas, dengan gejala muncul sejak akhir Desember 2025.
Hingga kini, tidak ada penambahan kasus baru, dan risiko penyebaran global dinilai rendah, meski virus ini mematikan dengan potensi radang otak (ensefalitis) dan gangguan pernapasan serius.
Kemunculan kasus ini memicu kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pemerintah Indonesia langsung memperkuat pengawasan dengan memperketat pemantauan pelaku perjalanan dari luar negeri, serta pemeriksaan alat angkut dan barang impor di pelabuhan dan bandara untuk mencegah masuknya virus Nipah.
Virus Nipah merupakan zoonosis yang berasal dari kelelawar buah (Pteropus spp.)
sebagai reservoir utama. Penularan ke manusia biasanya melalui hewan perantara seperti babi atau kuda, konsumsi nira atau buah terkontaminasi air liur/urine kelelawar, serta kontak erat antarmanusia.
Pada hewan, gejala meliputi gangguan pernapasan hingga saraf yang bisa fatal, sementara pada manusia dampaknya lebih berat, sering berujung kematian akibat ensefalitis.
Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), drh. M. Th. Khrisdiana Putri, M.P., Ph.D., menjelaskan bahwa virus Nipah bersifat musiman dan dipengaruhi faktor stres atau kelaparan pada kelelawar.
“Ketika sumber pakan alami seperti nira di hutan berkurang, risiko penularan meningkat karena virus lebih aktif,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Ia menyoroti langkah pencegahan yang telah diterapkan pemerintah, seperti melarang peternakan babi dekat perkebunan nira, untuk memutus rantai penularan dari kelelawar ke hewan perantara.
“Di sektor peternakan, penting menjaga jarak kandang dari kebun nira dan menerapkan desinfeksi rutin,” tambahnya.
Khrisdiana juga mengingatkan bahaya konsumsi nira segar tanpa pengolahan.
“Nira sebaiknya dipasteurisasi atau dipanaskan terlebih dahulu, jangan diminum langsung,” tegasnya.
Virus Nipah tergolong lemah di lingkungan luar inang, sehingga mudah rusak dengan sabun, deterjen, atau pemanasan.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan, ganti pakaian setelah beraktivitas, serta menjaga keseimbangan dengan alam menjadi pencegahan efektif.
Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D., menambahkan bahwa kelelawar adalah reservoir utama, dan pola penularan klasik dimulai dari kelelawar ke babi lalu ke manusia, seperti di Malaysia 1998-1999.
Namun di Bangladesh dan India, penularan sering langsung dari kelelawar ke manusia melalui nira terkontaminasi, bahkan antarmanusia melalui kontak erat.
“Penularan manusia ke manusia sudah terbukti, itulah kekhawatiran utama,” ungkapnya.
Di Indonesia, belum ada kasus Nipah terdeteksi.
Namun, Heru menekankan pentingnya sistem peringatan dini (early warning system) untuk zoonosis.
“Siapa pun yang menemukan gejala aneh pada hewan seperti babi harus segera melaporkan. Peringatan dini adalah kunci mencegah penyebaran,” katanya.
Ia menegaskan solusi bukan memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak, meningkatkan kewaspadaan, dan melaporkan gejala tidak biasa pada hewan ternak.
“Upaya ini bergantung pada kesadaran kolektif untuk mencegah spillover ke manusia,” pungkasnya.
Pemerintah dan pakar terus mengimbau masyarakat Yogyakarta serta Indonesia untuk tetap waspada terhadap penyakit zoonosis, terutama dengan mobilitas tinggi pasca-pandemi.
Pantau gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, mual, hingga gangguan kesadaran, dan segera konsultasi medis jika ada riwayat kontak dengan hewan atau perjalanan dari area endemis. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin