Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hujan Es Mengancam DIY Selama Puncak Musim Hujan, BMKG Ungkap Penyebabnya 

Bahana. • Minggu, 1 Februari 2026 | 14:24 WIB
Butiran es cukup besar jatuh dari langit bersamaan dengan hujan deras di Jogja (11/3/2025).
Butiran es cukup besar jatuh dari langit bersamaan dengan hujan deras di Jogja (11/3/2025).

JOGJA - Peristiwa hujan es disertai angin kencang kerap terjadi di DIY dalam beberapa hari ini.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bencana tersebut dapat menjadi ancaman selama puncak musim hujan.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, fenomena hujan es disebabkan tekanan udara turun lebih kuat.

Sehingga butiran es yang terperangkap dalam awan turun ke permukaan tanah melalui hujan masih dalam bentuk yang sama.

Warjono menyebut, fenomena hujan es dapat menjadi ancaman selama masa puncak musim penghujan di bulan Februari ini. Sebab selama periode tersebut proses pembentukan awan konvektif kemungkinan terus terjadi.

“Bisa terjadi hujan es selama puncak musim penghujan, jika pemicu tumbuhnya awan konvektif ada terus,” ujar Warjono saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Minggu (1/2/2026).

Awan konvektif merupakan awan hujan yang terbentuk akibat penguapan air dari paparan sinar matahari di permukaan tanah.

Uap air yang terperangkap dalam suhu dingin di awan berubah menjadi butiran es. 

Jika butiran es turun dengan tekanan udara naik maka menjadi air. Namun jika kondisi tekanan udara turun lebih kuat, butiran es bisa dalam bentuk yang sama saat sampai ke permukaan tanah.

Fenomena angin kencang yang disertai hujan lebat dan butiran es terjadi pada Sabtu (31/1/2026).

BMKG Yogyakarta mencatat dampak cuaca ekstrem itu terasa di Kapanewon Kalasan dan Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Warjono menyatakan, berdasar hasil analisis di hari tersebut pertumbuhan awan konvektif memang cukup masif.

Lantaran ada pola belokan angin (konvergensi) akibat aktivitas angin baratan di wilayah DIY.

Kemudian suhu muka laut dalam kondisi hangat berkisar antara 30-31 derajat celcius.

Sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan. Kondisi tersebut diprediksi terus terjadi selama bulan Februari ini.

“Keadaan ini juga menimbulkan hujan berintensitas lebat yang disertai angin kencang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyatakan bahwa informasi cuaca cukup penting menjadi dasar mitigasi.

Sebab curah hujan yang tinggi meningkatkan potensi banjir luapan sungai dan talut longsor di kawasan permukiman.

Sebagai upaya mitigasi, Darmanto mengaku telah menyiagakan telemetri selama 24 jam penuh.

Kemudian juga pengoperasian sistem early warning system (EWS) di sejumlah aliran sungai sebagai sistem deteksi dini.

“Permukiman bantaran sungai juga perlu waspada, khususnya jika curah hujan tinggi terjadi secara berulang,” pesannya. (inu)

Editor : Bahana.
#hujan es #BMKG DIY #Jogja