Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gempa dari Aktifnya Sesar Opak Tak Pengarungi Aktivitas Gunung Merapi, Masyarakat Diminta Tidak Panik

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 27 Januari 2026 | 21:38 WIB
Gempa magnitudo 4,4 berpusat di Bantul, Selasa (27/1/2026).
Gempa magnitudo 4,4 berpusat di Bantul, Selasa (27/1/2026).

JOGJA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta memastikan tidak terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi setelah wilayah DIY diguncang dua kali gempa bumi tektonik, Selasa (27/1).


Kepala BPPTKG Agus Budi Santosomenyampaikan, gempa tektonik itu sempat dirasakan masyarakat di sekitar DIY, termasuk oleh petugas di Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Kabupaten Magelang.


"Stasiun pemantauan kegempaan Gunung Merapi merekam kejadian gempa itu. Namun hingga saat ini tidak tampak adanya tanda-tanda peningkatan aktivitas Gunung Merapi,” ujar Agus dalam keterangannya Selasa (27/1).


BPPTKG menegaskan, hasil pemantauan menunjukkan parameter kegempaan dan deformasi Gunung Merapi masih stabil. Data deformasi dari GB InSAR Stasiun Turgo dan Babadan tidak menunjukkan adanya anomali pascagempa tektonik yang terjadi. "Baik dari pemantauan kegempaan maupun deformasi, kondisinya masih dalam batas normal,” jelasnya.


Sementara itu, Badan Geologi melaporkan terjadi awan panas guguran (APG) di Gunung Merapi pada Selasa sore. Peristiwa itu terjadi pada pukul 16.13 dengan jarak luncur sekitar 1.000 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong.


Awan panas guguran tercatat memiliki amplitudo maksimum 39,07 mm dengan durasi 109,32 detik. Saat kejadian, arah angin bertiup ke timur.


BPPTKG juga menegaskan status aktivitas Gunung Merapi masih Siaga (Level III), yang telah ditetapkan sejak 5 November 2020. Masyarakat diminta untuk tetap mematuhi rekomendasi resmi dan tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bahaya.


BPPTKG juga mengimbau warga agar tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan selalu memantau perkembangan resmi aktivitas Merapi melalui kanal Badan Geologi dan BPPTKG.


Sementara itu, salah satu sumber gempa kemarin berasal dari Sesar Opak aktif. "Maka rasanya agak beda, tadi pagi mengayun. Ini tadi agak tersentak yang menandakan indikasi sumbernya," ujar ahli gempa bumi dari Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM Gayatri Indah Marliyani Selasa (27/1).


Gempa pertama terjadi sekitar pukul 09.00 dan gempa kedua 13.00. Sumber gempa pertama berasal dari Pacitan, sedangkan kedua berasal dari Sesar Opak. Secara mekanisme, gempa pertama bersumber dari lempengan bumi yang terselip masuk (intraslep). Kemudian gempa kedua dimungkinkan merupakan respons dari goncangan yang pertama.


"Karena respons goncangan tadi pagi (kemarin, Red) bagian atas (lempengan) menjadi sedikit tidak stabil. Terlebih Sesar Opak juga aktif," bebernya.


Setelah gempa besar DIY tahun 2026, Sesar Opak hingga kini masih beraktivitas secara aktif dengan intensitas adanya gempa cukup tinggi. Gempa kecil berkekuatan satu hingga dua magnitudo bahkan hampir setiap minggu terjadi di Sesar Opak. Namun yang terasa memang berkekuatan besar di atas 4 hingga 5 SR.


"BMKG Jogja punya monitorinng cukup rapat di sepanjang Opak, jadi termonitor," paparnya.
Aktivitas Sesar Opak menjadi perhatian sejak gempa besar 2026 di DIY. Dari sana BMKG memperbanyak alat monitoring di sekitarnya. Dampak kerusakan gempa 2026 pun cukup berat dan meluas karena magnitudo yang besar dengan kedalaman dangkal. Hingga menimbulkan traumatis bagi sebagian orang. "Kondisi batuan di Jogja mendukung untuk gelombang teramplifikasi," jelasnya.


Menurutnya, pergerakan lempengan bumi yang berada di selatan Jawa relatif tinggi. Bahkan dari hasil studi yang ia dapatkan bisa mencapai 6 centimeter per tahun. Lempengan itu berkaitan dengan pergerakan Sesar Opak yang terpengaruh dengan adanya aktivitas itu.
"Jadi mau tidak mau memang akan terjadi (gempa besar) yang waktunya kapan belum bisa ditentukan," tandasnya.


Menurutnya, potensi adanya gempa belum bisa diprediksi melalui alat pendeteksi. Prediksi pergerakan lempengan bumi biasanya diperkirakan mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Itu pun dilihat dari penumpukan energi dari dalam bumi.
"Jadi kalau ada yang bisa memprediksi gempa dalam kurun waktu minggu, bulan atau tahun, itu tidak benar," jelasnya.


Namun potensi tsunami yang didahului dari gempa sudah bisa diprediksi. Maka dari itu, menurutnya, perlu dilakukan sosialisasi rutin kepada masyarakat supaya siap dalam menghadapi gempa bumi.


Terpisah, Kepala Stasiun Geofisika Sleman Ardianto Setiyadi mengatakan, gempa pukul 13.15 bersumber dari Sesar Opak di 16 km arah timur Bantul dengan kedalaman 11 km dengan kekuatan atau magnitudo 4,5. Gempa itu dapat dirasakan di seluruh DIY.


"Sampai 13.45 itu 14 susulan, sampai sekarang pukul 14.45 sekarang satu jam setelah itu total adalah 23 kali kejadian, dengan magnitudo berkisar 1 sampai 2 skala magnitudo. Kekuatannya meluruh atau mengecil," ujarnya.


Menurutnya, BMKG melakukan monitoring sumber-sumber gempa di seluruh Indonesia selama 24 jam. Bahkan setiap hari terpantau ada gempa namun tidak semua masyarakat merasakannya.
"Rata-rata tiap minggu itu 100 sampai 150 kejadian gempa. Namun itu yang dipantau oleh alat dan tidak semua dirasakan," bebernya.


Terkait adanya gempa itu, ia meminta masyarakat tidak panik dan tetap beradaptasi serta melakukan mitigasi. Ia memastikan BMKG telah mempunyai banyak tambahann alat untuk memoniitoring khususnya di Sesar Opak. "Kami bisa memantau sampai magnitudo yang sangat kecil, bahkan satu skala pun bisa kita pantau," ucapnya. (iwa/oso/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#BPPTKG Jogjakarta #gempa #Gunung Merapi #tektonik #badan geologi #Deformasi #sesar opak