MUNGKID - Petani kopi di lereng Gunung Merbabu, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, terus memperluas areal perkebunan kopi dengan cara yang ramah lingkungan. Mereka membuka lahan baru tanpa pembakaran, mengandalkan metode manual dan mekanis untuk menjaga kelestarian tanah.
Upaya itu juga dilakukan sekaligus mempertahankan kualitas kopi Arabika Sawangan yang kini semakin diminati pasar premium. Teranyar, perluasan kebun kopi dilakukan di Dusun Windusabrang, Desa Wonolelo. Di lokasi berupa bukit terasering itu, petani menyiapkan lahan baru seluas satu hektare milik Pandi, anggota Kelompok Tani Nongko Jajar.
Ketua Kelompok Tani Nongko Jajar Wonolelo Sukimin menjelaskan, penambahan lahan tanam kopi terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Di Wonolelo, luasan kebun kopi yang aktif kini mencapai sekitar 25 hektare, sementara total lahan kopi yang tercatat di desa tersebut mendekati 75 hektare.
Adapun dalam satu kelompok tani, penambahan lahan terbaru mencapai 10 hektare. "Di desa kami ada penambahan tanam. Satu kelompok saja sudah 10 hektare. Di Wonolelo sendiri totalnya sudah sekitar 25 hektare," ujar Sukimin Jumat (23/1).
Perluasan kebun kopi ini, kata dia, tidak hanya bertumpu pada aspek ekonomi, tetapi juga tradisi dan konservasi. Para petani masih mempertahankan tradisi wiwit tandur atau ritual mengawali masa tanam sebagai bentuk doa dan harapan agar tanaman tumbuh baik serta hasil panen melimpah.
Sukimin menyebut, kopi telah menjadi sumber penghidupan penting bagi warga Wonolelo. Selain menambah luas tanam, sebagian petani menerapkan pola tumpangsari dengan tanaman hortikultura untuk menjaga pendapatan tetap stabil ketika harga kopi berfluktuasi.
Hasilnya pun, lanjut dia, mulai terasa. Pada musim panen raya tahun lalu, harga kopi Arabika Wonolelo cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Harga green bean tercatat berkisar Rp 140 ribu-Rp 160 ribu per kilogram (kg).
Sementara harga ceri kopi berada di kisaran Rp 14 ribu-Rp15 ribu per kilogram. Dari panen tahun 2025 lalu, kelompok tani Nongko Jajar mencatat produksi sekitar 21 ton ceri kopi yang diolah secara kolektif.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang Romza Ernawan mengatakan, pengembangan kopi Arabika di wilayah Sawangan sejalan dengan strategi daerah menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan berbasis konservasi.
Secara keseluruhan, luas perkebunan kopi Arabika di Kabupaten Magelang saat ini mencapai sekitar 1.075 hektare dan ditargetkan bertambah 150 hektare pada 2026. Khusus Desa Wonolelo, pada 2025 tercatat memiliki 75 hektare kebun kopi.
Dia menambahkan, pemerintah juga mengalokasikan bantuan pengembangan kopi Arabika dari dana APBN seluas 25 hektare di desa tersebut. Dari sisi produksi, Romza menyebut, panen kopi robusta di Kabupaten Magelang per musim mencapai sekitar 2.000 ton, sementara Arabika sekitar 141 ton.
Pengembangan kopi Arabika ini, lanjut Romza, tidak hanya soal produksi, tapi juga konservasi lahan. "Tanaman kopi cocok untuk daerah dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut dan mampu menjaga struktur tanah," kata Romza.
Dia mengutarakan, pengembangan kopi Arabika difokuskan di lereng-lereng gunung seperti Merapi, Merbabu, Sumbing, Telomoyo, Andong, dan Sindoro. Pemerintah daerah juga mendorong penguatan ekosistem usaha kopi melalui koperasi. Satu di antaranya Koperasi Manunggal Sejahtera, sebagai wadah petani meningkatkan nilai tambah dan daya tawar. (laz)