SLEMAN - Petilasan Mbah Maridjan Selasa pagi (20/1) terlihat sibuk. Museum yang berlokasi di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, ini sudah dipenuhi ratusan orang. Abdi dalem, masyarakat umum, hingga wisatawan. Mereka menuju satu titik di zona adat kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Bangsal Srimanganti. Pukul 06.15, rombongan labuhan mendaki menuju ketinggian sekitar 1.500 mdpl.
Jalanan licin, tanjakan, hingga hawa dingin tak menyurutkan semangat. Langkah sepatu, sandal, bahkan ada yang tanpa alas terus melaju dengan latar Gunung Merapi yang terlihat cerah. Rombongan yang dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau akrab disapa Mbah Asih ini sesekali berhenti untuk mengambil napas.
Perhentian pertama adalah Pos Bedengan. Tikar digelar, dupa dibakar, dan doa dipanjatkan. Usai uluk salam, memohon agar proses peringatan Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan takhta Sultan Hamengku Bawono Ka 10 berjalan lancar. Raja Keraton yang juga gubernur DIY itu sudah bertakhta 38 tahun. Tepat pada Minggu Kliwon, 18 Januari 2026 atau 29 Rejeb Dal 1959.
Perjalanan terus dilanjutkan hingga Bangsal Srimanganti. Di sini ubarampe Labuhan Merapi dibuka. Di antaranya, satu lembar Semekan Gadhung, satu lembar Semekan Gadhung Mlathi, dan satu lembar Dhesthar Daramuluk. Khusus tahun Jawa Dal, tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada ubarampe yang berbeda. Terdapat tambahan Kambil Watangan atau pelana kuda. Warnanya merah dan kuning dengan tutup kain hijau. Selama perjalanan, pelana kuda digotong menggunakan kayu panjang.
"Jadi menurut sejarah, Eyang Megantoro itu memelihara kuda, lalu memberikan pelana saja. Pelana itu pakaian kuda," terangnya ditemui di sela-sela acara.
Mbah Asih ini menyebut, Kambil Watangan juga tidak dilorot seperti ubarampe lainnya. Namun akan dikembalikan ke Keraton Jogja. Nantinya akan digunakan kembali tiap delapan tahun sekali. Berbeda dengan ubarampe lain yang bisa diberikan kepada masyarakat.
"Sudah banyak yang pesan. Dibagikan, tapi memang tidak langsung bagi-bagi. Memesan dulu biar adil karena banyak yang membutuhkan," katanya.
Anak keempat almarhum Mbah Maridjan dari enam bersaudara ini menyebut, untuk bisa mendapat lorotan ubarampe cukup mendaftar pada dirinya. Tidak ada biaya. Hanya saja memang terkadang harus menunggu jeda satu tahun karena antreannya panjang. "Namanya sudah lorotan, jadi diserahkan. Buat siapa saja, tidak harus orang keraton," katanya.
Puncak acara wilujengan atau kenduri ini diakhiri usai prosesi doa dipanjatkan dan pembuatan nasi kepal beserta lauk. Berkat ini dibagikan pada pengunjung saat akan turun sebagai oleh-oleh dengan harapan bisa membawa berkah dan keselamatan.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa yang turut serta dalam rombongan labuhan mengaku sengaja berniat untuk ikut serta sampai puncak. Baginya, ini usaha untuk melestarikan tradisi. Termasuk upaya menjaga keselarasan dengan manusia maupun alam. "Bersama masyarakat memohon apa yang menjadi tujuan, semoga dikabulkan Tuhan," katanya.
Danang menyebut tidak ada persiapan khusus. Terpenting hanya menjaga kondisi kesehatan saja. Disinggung soal mencari lorotan ubarampe Labuhan Merapi, dia tidak malu-malu mengakuinya. "Insya Allah nanti dapat. Gak tau apa, sedapatnya. Yang penting niatnya sampai dulu," katanya.
Labuhan sendiri sejatinya berasal dari kata labuh. Artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Tujuannya sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk. Upacara ini digelar sebagai napak tilas pendahulu Keraton Jogja. (del/laz)