GUNUNGKIDUL - Hujan deras yang mengguyur Kapanewon Gedangsari sejak Jumat (9/1) hingga Senin (12/1) memicu terjadinya tanah longsor di Padukuhan Krinjing, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari. Longsoran tebing setinggi 10 hingga 12 meter itu menutup total jalan desa penghubung antardusun yang selama ini menjadi akses utama warga.
Jawatan Keamanan Kapanewon Gedangsari Agus Nugraha mengatakan, intensitas hujan yang tinggi selama beberapa hari membuat struktur tanah di lokasi tidak stabil. Puncaknya, longsoran material berupa batuan keras dan tanah menutup seluruh badan jalan.
"Longsorannya benar-benar menutup semua area jalan. Tebingnya sekitar 10 sampai 12 meteran dan materialnya cukup berat,” ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (13/1).
Menurut Agus, pembersihan sempat dilakukan secara terbatas sehingga jalan bisa dilalui sepeda motor. Namun, demi alasan keselamatan akses tersebut kembali ditutup. Hal itu menyusul potensi longsor susulan yang masih cukup besar, mengingat cuaca di wilayah tersbeut masih berpeluang hujan.
"Kami bersama BPBD Gunungkidul dan pemerintah kalurahan sepakat jalan ditutup total. Keamanan warga menjadi prioritas,” tegasnya.
Penutupan jalan berdampak pada sekitar 120 kepala keluarga (KK) di Padukuhan Krinjing. Warga yang hendak menuju pusat pemerintahan Kalurahan Mertelu kini harus memutar melalui jalur alternatif melewati padukuhan lain dengan tambahan waktu tempuh sekitar 15 menit.
"Memang sedikit memutar, tapi jalur alternatif itu lebih aman dan warga juga memilih lewat sana,” tambah Agus.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta menjelaskan, pihaknya telah melakukan asesmen lanjutan Selasa (13/1). Hasil asesmen menunjukkan material longsoran didominasi batu keras hingga 90 persen dengan volume cukup besar, panjang sekitar 35 meter dan ketebalan mencapai 6 meter.
"Dengan kondisi seperti itu, pembersihan manual tidak memungkinkan. Rekomendasinya harus menggunakan alat berat,” ungkap Edy.
BPBD Gunungkidul telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk penurunan alat berat guna mempercepat penanganan. Diperkirakan proses pembersihan hingga jalan benar-benar terbuka membutuhkan waktu sekitar tiga hari sejak alat berat mulai bekerja.
Selain asesmen, Edy menyebut pihaknya juga menyalurkan bantuan logistik berupa satu paket pemakanan, satu unit angkong, serta dua unit linggis kepada Pemerintah Kalurahan Mertelu. "Kami akan terus memantau titik-titik rawan longsor dan mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama saat hujan," tandas Edy. (bas/laz)