Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Relawan Jogja Bertugas di Lokasi Terisolasi Pasca-Bencana Banjir Aceh, Tanpa Listrik, ke Sumber Air Harus Jalan Kaki 1 Km dengan Medan Terjal

Agung Dwi Prakoso • Senin, 12 Januari 2026 | 21:47 WIB
BERGELANTUNGAN: Para relawan saat menyeberang Sungai Berawang Gajah harus menggunakan tali keling, karena jembatan sebagai akses utama raib tersapu banjir.
BERGELANTUNGAN: Para relawan saat menyeberang Sungai Berawang Gajah harus menggunakan tali keling, karena jembatan sebagai akses utama raib tersapu banjir.

Menderma di saat kondisi sengsara, sederhana namun bermakna. Mungkin kalimat itu yang bisa mewakili perasaan para relawan kemanusiaan Jogja yang bertugas di Aceh. Bentuk penghargaan para korban bencana, mampu menyentuh hati dan menyembuhkan rindu keluarga mereka di Jogja.

Salah seorang relawan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) DIY Muhammad Adil S menceritakan lika-liku dan perasaanya ketika menjadi relawan di Aceh. Terutama ditempatkan dii lokasi yang masih terisolasi. Dengan suara telepon yang kerap terputus, ia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan.


"Sory Mas, ini starlink kalau siang mati. Saya harus naik bukit dulu untuk cari sinyal biar bisa telepon," ujarnya dengan napas terengah-engah, Senin (12/1).


Ia bersama 24 relawan lain dari DIY berangkat menuju Aceh 3 Januari lalu. Dari Jogja menggunakan bus menuju Jakarta, lanjut dengan perjalanan udara menuju Medan. Mereka beralih maskapai dengan menggunakan Wings yang notabe pesawat kecil untuk menuju Takengon.
"Rombongan kami ada dari Tim Kesehatan PKU Gamping dan PKU Boyolali serta Tim Psikososial dari Unisa," bebernya.


Para relawan di sana menangani empat daerah yakni Kekuyang, Bugeara, Bintang Pepara, dan Burlah. Diceritakan, kondisi di empat daerah itu sampai hari ini masih terisolasi. Para relawan perlu menyeberang secara manual menggunakan tali keling besi melewati Sungai Berawang Gajah. Sebab, satu-satunya jembatan sebagai akses utama penyeberangan raib tersapu ganasnya banjir. "Kami menyebarang menggunakan seling bergelantungan," tandasnya.


Hingga saat ini, lanjutnya, empat desa itu masih belum terjamah listrik. Bahkan air bersih sebagai sumber utama kehidupan masih sulit untuk diakses. Perlu melakukan perjalanan ke desa seberang sejauh satu kilometer dengan medan terjal untuk menuju sumber mata air.
"Itu sumber mata air yang deres. Kalau mau mandi harus ke desa seberang itu," ucap ketua Pos Pelayanan MDMC DIY tersebut.


Ada beberapa desa yang tidak bisa dihuni seperti Burlah yang telah hanyut tersapu banjir dan gelondongan kayu. Kemudian warga Bintang Pepara juga diminta untuk mengungsi karena desanya berada di lokasi rawan longsor.


"Kami sebutnya zona merah. Pengungsi dari sana dibawa ke bawah, ditempatkan di daerah dekat puskesmas," katanya.


Kendala utama masyarakat dan relawan adalah terbatasnya air, listrik dan juga terputusnya akses akibat jembatan ambruk. Otomatis perputaran ekonomi di wilayah itu juga terhenti. Padahal ada sekitar 1.000 warga yang merupakan penduduk empat desa itu.


"Mungkin kalau jembatan sudah nyambung, otomatis ekonomi akan berjalan perlahan," jelasnya.
Sejak menjadi relawan kemanusiaan, penempatan di lokasi terisolasi menjadi pengalaman pertama baginya. Cerita unik dan menarik juga ia dapatkan dari perjalananya membantu masyarakan korban bencana alam.
"Di sini termasuk sentra durian, dari pagi sampai malam ada saja masyarakat yang datang untuk memberikan durian kepada kami secara gratis," ujarnya.


Fenomena itu cukup menyentuh hati para relawan. Sebab, dengan kondisi yang serba terhimpit baik dari sisi ekonomi maupun keadaan lingkungan, namun masyarakat masih menjamu para relawan dengan cara sederhana. Mereka berbagi kebahagiaan melalui apa yang mereka punya. "Salah satu ucapan terima kasih masyrakat untuk kami di sini," tambahnya.


Dalam melakukan pelayanan, mereka membuka layanan kesehatan baik di puskesmas, posko maupun visit ke setiap rumah. Layanan Psikososial juga diadakan sebagai sebuah terapi mental pasca diterpa bencana.


Untuk memperlancar komunikasi dan mobilitas relawan, mereka didampingi warga lokal yang menjadi guide sekaligus penerjemah bahasa daerah. Sebab, banyak warga khususnya yang berusia lansia belum fasih menggunakan Bahasa Indonesia dan masih menggunakan bahasa daerah lokal. "Bahasanya di sini Gayo, kami agak kesulitan jika tidak didampingi," ujarnya.


Selama di sana, ia selalu rindu keluarga yang ia tinggalkan di rumah. Terlebih meninggalkan dua anaknya yang masih kecil dan juga istrinya. Namun karena itu merupakan tugas kemanusiaan, rasa itu tidak ia hiraukan.


Istrinya pun juga merupakan relawan dan mengizinkan dirinya untuk berangkat. "Saya setiap hari telepon dengan anak istri. Setiap pagi naik ke bukit untuk telepon, sebelum mereka berangkat sekolah," bebernya.


Rencananya, tim medis akan dipulangkan ke Jogja pada 15 Januari untuk berganti dengan relawan kloter berikutnya. Namun untuk bagian manajerial, kemungkinan akan pulang ke Jogja pada Februari. "Saya termasuk manajerial, jadi satu bulan di sini," katanya. (oso/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#aceh #MDMC #bantuan #relawan #Banjir #jembatan #tim media #ambruk