KULON PROGO - Musim durian segera tiba. Tapi, cuaca ekstrem belakangan ini menjadikan bakal buah durian banyak yang tidak jadi alias rontok.
Radar Jogja melihat langsung ke daerah-daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil durian. Apakah bakal panen raya, atau justru gagal panen?
Awal tahun 2026, petani durian di Kulon Progo dipastikan gagal panen. Kondisi ini juga melanda sentra durian di berbagai wilayah.
Penyebab utamanya, curah hujan ekstrem selama tiga bulan terakhir yang menyebabkan bibit buah durian rontok sebelum berkembang.
Petani durian asal Padukuhan Kempong, Kalurahan Banjaroyo, Kapanewon Kalibawang Sudarno membenarkan kondisi itu.
Sejak November lalu hujan deras telah melanda wilayah Kulon Progo l, terutama wilayah Kalibawang sebagai sentra durian.
"Hujan lebat dan berturut. Kalau tahun lalu tidak separah ini," ucap Sudarno saat ditemui Radar Jogja di kebun durian miliknya, Minggu (11/1).
Pemilik toko durian Kadir ini menjelaskan, tahun lalu awal musim hujan tak diliputi intensitas tinggi. Sedangkan tahun 2025, awal musim hujan langsung diguyur dengan intensitas tinggi.
Sejak November 2025, hujan deras berturut-turut selama dua bulan terjadi.
Kondisi itu, membuat bakal buah durian rontok seketika. Pada fase pembentukan bakal buah dari kelopak bunga, hujan mulai terjadi.
Saat bakal buah mulai terbentuk, kekuatan tangkainya belum terlalu kuat. Alhasil, hujan lebat disertai angin kencang mudah merontokkan bakal buah.
"Bakal buahnya banyak yang rontok. Padahal kebanyakan bakal buah sudah disemprot," ucapnya. Fase pembentukan bakal buah, petani biasanya melakukan penyemprotan insektisida. Tujuannya menghindarkan buah dari lalat buah.
Tentu jika bakal buah rontok, petani akan lebih merugi. Dampak kerontokan bakal buah berpengaruh pada panen. Pasalnya, penurunan hasil panen mencapi 50 persen.
Untuk pohon durian berumur lebih dari 20 tahun, biasanya menghasilkan 800 buah. "Tahun lalu pohon bisa menghasilkan 800 buah, sekarang cuma 200 buah," sebutnya.
Cuaca buruk juga menurunkan tingkat kualitas durian. Kelembapan tinggi, membuat buah durian gampang terserang penyakit.
Paling utama, penyakit trip yang membuat buah tak bisa dikonsumsi dan busuk kering di atas pohon.
Petani durian tak bisa melakukan banyak hal untuk optimalisasi hasil panen. Pasalnya, cuaca menjadi faktor utama.
Alhasil di tahun 2026 ini mereka tak memperoleh banyak keuntungan. "Tidak sampai rugi, tapi untungnya tipis," ucapnya.
Penurunan angka panen ini, membuat stok durian lokal menipis. Alhasil, harga tinggi tak bisa terbendung.
Namun, bagi petani durian, menjual buah dengan harga tinggi membuat mereka kehilangan pembeli.
Maka kebanyakan petani durian di Kulon Progo mengambil keuntungan lebih kecil. Hingga saat ini, harga durian ukuran besar dalam rentang Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Sedangkan durian ukuran kecil Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. (gas/laz)
Editor : Herpri Kartun