JOGJA - Arahan dari Gubernur DIY Hamengku Buwono X soal penanganan parkir liar saat musim liburan, mendapat tanggapan dari Pemkot Jogja. Dinas Perhubungan sebagai organisasi perangkat daerah yang menangani perparkiran ini mengaku butuh infrastuktur parkir tambahan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengaku siap untuk mengantisipasi tindakan parkir liar dan nuthuk yang seringkali memberatkan wisatawan. Namun agar bisa terwujud pihaknya membutuhkan infrastuktur parkir. Salah satunya lahan.
Arif menyebut mengaku sudah berkoordinasi sejumlah pihak untuk penyediaan lahan parkir. Terkhusus di sekitar kawasan Malioboro. Namun ia enggan membeberkan secara lokasi lahan karena masih dalam proses negosiasi.
"Nanti saya akan rilis pada saat operasi Nataru (Natal dan Tahun Baru). Tadi saya sudah ketemu dengan salah seorang pemilik lahan,” ujar Arif saat ditemui di Jembatan Kewek, Senin (15/12).
Mantan camat Gondomanan itu juga enggan membeberkan secara rinci soal kantong-kantong parkir yang telah disiapkan guna menyambut lonjakan wisatawan saat masa libur panjang nataru. Lantaran masih berkoordinasi dengan pihak-pihak penyedia lahan.
Disinggung imbas pemindahan Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali ke lahan eks Menara Kopi, Arif mengakui memang cukup berdampak pada meningkatnya aktivitas parkir liar. Terkhusus di kawasan sekitar Malioboro seperti Jalan Pasar Kembang.
Menurutnya, hal itu tidak lepas dari kebiasaan wisatawan yang selama ini selalu ingin menempatkan kendaraannya dekat dengan destinasi wisata. Mengatasi hal itu, dishub tengah berupaya memaksimalkan lahan di sekitar Malioboro yang bisa dimanfaatkan sebagai kantong parkir. “Semoga Kridosono bisa kami fungsikan untuk parkir,” tegas Arif.
Sebagaimana diketahui, kepada awak media Gubernur Hamengku Buwono X meminta Pemkot Jogja bisa mengatasi parkir liar. Bahkan suami dari GKR Hemas itu akan turun langsung jika pemkot tidak mampu.
HB X menyatakan, pemerintah provinsi telah rutin melakukan kampanye agar pelaku wisata dan pengelola parkir tidak memberikan tarif nuthuk kepada wisatawan. Namun permasalahan parkir liar masih sering timbul ketika masa libur panjang.
Raja Jogja ini menyebut, fenomena parkir liar itu juga muncul ketika penerapan Malioboro sebagai kawasan pedestrian pada bulan Desember lalu. Titik parkir tidak berizin muncul di sepanjang kawasan sirip-sirip. “Itu kami identifikasi banyak parkir liar, masalahnya kan di situ yang terjadi," beber HB X. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita