JOGJA – Meski biji kopi Pulau Jawa menjadi komoditas yang memiliki nilai lebih untuk ekspor, namun belum menjadi daya tarik pasar global.
Pelatihan pun dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) kepada petani lokal dan pengusaha produk olahan demi mendorong kualitas hasil panen.
Project Manager Upland Kementan Muhammad Ikhwan mengatakan, pihaknya terus mendorong agar petani lokal bisa memenuhi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas (3K).
Sehingga hasil panen kopi yang dihasilkan bisa memiliki daya tarik bagi dunia internasional.
Adapun daerah di Pulau Jawa yang mampu mengekspor kopi di antaranya dari Magelang, Jawa Tengah.
Komoditasnya green bean robusta dengan negara tujuan Dubai, Uni Emirat Arab. Jumlah yang diekspor sekitar 17 ton dan ke depan ditarget bisa mencapai 60 ton.
Baca Juga: Bukan Cuma Gudeg, Ini Deretan Kuliner Legendaris Yogyakarta yang Ramai Diserbu Saat Nataru
Selain kopi, beberapa komoditas lain juga mulai diekspor. Misalnya lada putih asal Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah sudah dikirimkan ke Jepang.
Lalu olahan bawang merah asal Sumenep, Jawa Timur diekspor ke sejumlah negara di Eropa.
Meskipun demikian, Ikhwan menyebut tantangan terbesar para petani kopi maupun komoditas lainnya adalah kontinuitas. Sebab sering menghadapi kendala berupa kondisi cuaca yang tidak menentu.
Baca Juga: SureColor G6030 Resmi Hadir: Terobosan Printer Direct-to-Film Pertama dari Epson
“Tantangan terbesar petani itu ada terkait dengan kontinuitasnya, misal pada saat melakukan perjanjian dengan mitra offtaker diminta komitmen sekian ton, kadang-kadang dari sisi suplai belum bisa siap,” ujar Ikhwan saat ditemui dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan pada salah satu hotel di Jogjakarta, Jumat (12/12/2025).
Kementan terus berupaya agar para petani lokal bisa memenuhi 3K.
Salah satunya melalui program Upland yang di dalamnya melaksanakan temu bisnis serta kurasi produk dari para petani dan pengusaha lokal agar komoditas memenuhi standar ekspor.
Ikhwan menuturkan, dalam program tersebut pihaknya menggandeng 251.981 petani dari 14 kabupaten di Indonesia.
Kementan juga menggandeng 14 perusahaan pembeli potensial yang nantinya bisa membantu ekspor kondisi ke beberapa negara.
“Komoditas seperti kopi, lada, dan cengkeh dipilih melalui seleksi karena dianggap memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” bebernya.
Sementara itu, Kurator Produk program Upland Ira Damayanti menyebut, keberhasilan kopi asal Magelang masuk ke pasar ekspor karena memiliki ciri khas tersendiri.
Menurutnya, kopi robusta yang dipanen dari kota sejuta bunga itu memiliki karakter yang kuat. Sehingga lebih disukai oleh negara timur tengah.
Walaupun begitu, komoditas kopi asal Indonesia masih belum bisa bersaing dengan sejumlah negara.
Lantaran Indonesia berada di peringkat keempat dunia untuk pengekspor kopi. Masih dibawah Vietnam, Brasil, dan Kolombia.
“Negara-negara tersebut menawarkan harga yang lebih murah, sehingga masalah harga menjadi tantangan global,” tambahnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita