JOGJA - Dalam rangkaian Hari Antikoupsi Sedunia (Hakordia) 2025, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meresmikan ulang zona antikorupsi di Gedung Kotak, Taman Pintar (Tampin), Jogja, Senin (8/12). Acara juga dibarengi dengan talkshow bertajuk “ASN Masa Kini: Licin, Lugas, dan Berintegritas” bagi para ASN di Jogjakarta.
Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Epi Handayani mengungkapkan, sebetulnya zona KPK di Taman Pintar telah diresmikan pada 4 Mei 2015. Kini dilakukan perbaharuan dengan konsep yang disesuaikan minat masyarakat. "Segmennya keluarga dan anak-anak. Dari zona ini konsepnya komik dengan tema misteri wabah korupsi," katanya.
Melalui komik di zona antikorupsi Tampin, pengunjung ditunjukkan gambaran seorang penegak hukum di KPK menangkap koruptor. Epi menambahkan, jika tahun sebelumnya peringatan di adakan di Jakarta, tahun ini diadakan di Jogja. Salah satu alasannya, perolehan skor dari survei penilaian integritas yang baik dan diharapkan dapat menjadi percontohan wilayah lain.
"Strategi pemberantasan korupsi itu ada tiga. Melalui penindakan, pencegahan, dan pendidikan. Pendidikan melalui edukasi, sosialisasi anti-korupsi, membuat orang tidak mau korupsi. Nah, itu PR berat juga, karena pendidikan tidak cukup dengan jangka waktu lima tahun selesai. Itu value dan menginternalisasi nilai," katanya.
Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengungkapkan apresiasinya atas terpilihnya Jogja sebagai lokasi peringatan Hakordia tahun ini. Menurutnya, selain menekankan pada sisi tranformasi, Jogjakarta juga akan terus belajar memegang kunci integritas dalam pembangunan daerah.
Ia juga sekaligus mengajak ASN untuk menjaga agar pelayanan publik senantiasa transparan dan akuntabel. "Integritas itu menjadi salah satu kunci yang dengan sekuat, terbaik apa pun aturan, kalau tidak ada integritas juga akan melewatkan. Tapi memang kita harapkan bagaimana hal mendasar menjadi watak kita dan menjadi suatu komite," ujar Wawan.
Sementara itu, Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo menekankan dari ketiga pendekatan pemberantasan korupsi, pendidikan menjadi poin utama. Menurutnya, watak dan sikap seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian terbentuk sejak dari keluarga dan sejak usia dini.
"Kejujuran itu mulai dibentuk bukan semenjak sekolah, tapi sejak kecil. Pendidikan itu sebuah yang mengubah dan membentuk, utamanya adalah pendidikan keluarga," paparnya.
Ibnu juga mengungkapkan pada 11 Desember 2003, Indonesia bersama 137 negara telah bersama-sama menandatangani Konvensi PBB Menentang Korupsi (UNCAC). Terakhir, ia mengajak untuk menghadirkan rasa saling mengingatkan, saling mendidik, dan saling mencegah sehingga mempersulit terjadinya praktik korupsi. (mg12/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita