Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jelata-Jelata Nahdliyin Jogjakarta Solidkan Gerakan,  Tolak Ikut Terseret Persoalan di PBNU

Delima Purnamasari • Sabtu, 29 November 2025 | 03:14 WIB

 

IRONI BESAR: Jumpa pers para Jelata-Jelata Nahdliyin Jogjakarta merespons perpecahan di tubuh PBNU, Jumat (28/11).
IRONI BESAR: Jumpa pers para Jelata-Jelata Nahdliyin Jogjakarta merespons perpecahan di tubuh PBNU, Jumat (28/11).

SLEMAN - Pengikut organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Jogjakarta yang mengatasnamakan diri Jelata-Jelata Nahdliyin turut merespons perpecahan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Mereka menegaskan, para elite-elite PBNU untuk tabayun dan lebih memperhatikan persoalan NU di kelas bawah.

Zuhdi Abdurrahman menjelaskan, semestinya NU bisa hadir menjadi pelindung dan mitra umat di tengah himpitan ekonomi saat ini. Namun pusaran konflik internal antara jajaran Syuriah dan Tanfidziyah ini nyatanya justru jadi ironi besar.

"Perpecahan ini dinilai banyak pihak telah dipengaruhi oleh kepentingan oligarki dan kekuatan politik di luar NU," terangnya dalam jumpa pers yang digelar di Kafe Omaggio, Wedomartani, Ngemplak, Jumat (28/11).

Pria yang pernah menjabat sekretaris Mubes Nahdliyin Nusantara ini menyebut, Jelata-Jelata Nahdliyin menyuarakan agar PBNU kembali pada Muqaddimah Qanun Asasi dan Khittah NU. Agar terjadi persatuan hati antara seluruh komponen. Termasuk mengedepankan silaturahmi dan ishlah.

Baginya, NU bukan organisasi politik, sehingga persoalan jangan diselesaikan dengan gaya politik. "Struktur NU didesain dengan menempatkan Syuriah sebagai pengendali arah kebijakan, sementara Tanfidziyah adalah pelaksana," katanya.

Sementara itu, Tgk Hasan Basri Marwah menjelaskan, harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak. Terlepas apakah dilakukan dengan percepatan muktamar atau islah internal.

Dia tidak ingin nahdliyin di bawah justru terseret konflik ini dan membela salah satu kubu. Hal terpenting adalah memiliki empati pada penderitaan masyarakat di bawah.

"Paling konkret itu masalah jelata ini. Penyangga NU bukan hanya pesantren dan kiai, tetapi masyarakat di desa-desa," kata pria yang pernah menjadi ketua Pelaksana Musyawarah Besar Nahdliyin Nusantara ini.

Hal senada diungkapkan Nur Khalik Ridwan. Dia menyebut banyak isu yang beredar terkait penyebab persoalan ini, seperti tuduhan zionis hingga persoalan tambang. Namun dia menegaskan Jelata-Jelata Nahdliyin tidak mau digiring ke mana pun.

"NU kaum bawah lebih besar. Ngurusi jelata itu lebih konkret. Harus ada silaturahmi PBNU pada kiai-kiai yang dihormati seperti di Jawa Timur atau Jawa Tengah," katanya. (del/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tuduhan #organisasi #zionis #Konflik Internal #silaturahmi #konkret #Nahdlatul Ulama