SLEMAN - Pertandingan sengit PSS Sleman melawan Deltras FC di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu (23/11) malam, berakhir imbang 1-1. Namun hasil akhir itu menyisakan tanda tanya besar bagi Pelatih PSS Ansyari Lubis yang mengaku bingung dengan sejumlah keputusan wasit yang dinilai kontroversial.
Salah satu poin yang menjadi sorotan utama pelatih yang akrab disapa Uwak itu standarisasi waktu tambahan (injury time). Ia menilai durasi waktu tambahan yang diberikan oleh wasit dalam laga melawan Deltras FC itu kerap tidak sebanding dengan banyaknya kejadian yang memakan waktu di lapangan.
"Jadi, kami tidak tahu standardisasi dari wasit apa gitu," tegasnya, Minggu (23/11). Tak hanya itu, momen puncak kekecewaan kubu PSS terjadi saat gol Irvan Mofu di menit ke- 90+12 dianulir wasit.
Baginya, ada sebuah inkonsistensi alasan yang diberikan wasit saat membatalkan gol itu setelah adanya protes dari lawan. "Wasit sudah mengambil keputusan itu gol sah. Tetapi karena diprotes di awal dia bilang offside. Yang kedua (bilang) handball. Yang ketiga, bola out," lontarnya.
Oleh karena itu dia menilai perubahan alasan yang berulang kali membuat pihaknya bingung, sekaligus mencederai integritas pertandingan. Sebab, keputusan vital dari seorang wasit itu tidak boleh didasarkan pada keragu-raguan atau sekadar feeling saja.
Dengan adanya beberapa insiden itu, Uwak meminta Komisi Wasit melakukan evaluasi mendalam. Pelatih asal Tebing Tinggi ini juga berharap para pengadil lapangan dapat melakukan introspeksi supaya standar pertandingan sepak bola di Indonesia semakin meningkat dan menarik untuk ditonton.
"Komisi Wasit juga harus belajar, harus introspeksi diri gitu lho. Supaya pertandingan itu bisa menarik. Jangan terhenti hanya gara-gara feeling," tandasnya. (ayu/laz)