JOGJA - Perkembangan moda transportasi berbasis teknologi di Indonesia semakin terasa dampaknya, termasuk di Jogja. Layanan transportasi online seperti Maxride dan ojek online kini jadi pilihan banyak masyarakat karena dianggap lebih cepat, praktis, dan mudah diakses.
Kondisi itu perlahan mendorong pergeseran peran transportasi konvensional seperti becak kayuh dan andong, yang selama bertahun-tahun menjadi ikon mobilitas dan pariwisata di Kota Gudeg.
Analis Data Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) Dwi Ardianta Kurniawan menjelaskan, perubahan perilaku masyarakat dalam memilih moda transportasi tidak bisa dilepaskan dari tuntutan efisiensi di tengah mobilitas yang makin dinamis.
Menurutnya, masyarakat saat ini membutuhkan layanan transportasi yang memberi kepastian waktu tempuh dan kemudahan akses tanpa harus berpindah tempat.
"Transportasi online itu efisien. Kita stay di tempat dan tidak perlu tunggu lama. Tarif mungkin sedikit lebih mahal, tapi sepadan dengan kenyamanan dan keamanan yang didapatkan," ujarnya Minggu (23/11).
Dwi menyebut, fenomena pergeseran ini sejatinya merupakan bagian dari transformasi teknologi yang terjadi di berbagai sektor kehidupan. Ia menilai perubahan itu bukan hanya terjadi pada moda transportasi, melainkan juga pada layanan komunikasi dan hiburan.
Ia mencontohkan kebiasaan menggunakan surat fisik telah tergantikan dengan pesan digital, sementara TV mulai kalah bersaing dengan platform streaming berbasis internet. Hal yang sama juga berlaku di konteks mobilitas harian, di mana masyarakat memilih hal yang paling mudah, nyaman, dan efisien.
Dalam kondisi itu, transportasi tradisional seperti becak dan andong semakin sulit bersaing ketika dilihat dari aspek tarif maupun kecepatan layanan. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap ongkos moda konvensional tidak lebih murah, sementara durasi perjalanan juga lebih lama dibandingkan transportasi online.
Di sisi lain, juga ada persepsi bahwa moda tradisional lebih layak dikelola untuk kebutuhan wisata ketimbang mobilitas harian. Meski begitu, peluang keberlanjutan transportasi konvensional masih terbuka lebar di Jogja sebagai daerah destinasi pariwisata.
Dwi menilai kebijakan penataan kawasan Malioboro yang memfungsikan becak dan andong sebagai transportasi wisata, merupakan langkah tepat. Kawasan itu memberi ruang bagi moda tradisional untuk tetap eksis tanpa dipaksa bersaing langsung dengan layanan berbasis aplikasi.
"Solusi pemerintah memosisikan andong dan becak di Malioboro itu bagus. Idealnya moda seperti itu diarahkan ke kawasan khusus dan diprioritaskan sebagai angkutan wisata," ulasnya.
Selain faktor efisiensi, Dwi menilai ketidakpastian tarif juga menjadi alasan psikologis konsumen beralih ke transportasi online. Basis negosiasi harga yang berlaku pada moda tradisional membuat penumpang sering merasa dirugikan.
Terlebih ketika terjadi praktik menaikkan tarif secara tidak wajar atau nuthuk. Jika dibiarkan, hal itu justru akan mempercepat penurunan minat masyarakat.
"Transportasi konvensional basisnya negosiasi, dan sering ada momen nuthuk harga yang justru merugikan mereka di jangka panjang. Paguyuban harusnya bisa atur transparansi tarif agar tidak terjadi hal seperti itu," tegasnya.
Terkait munculnya Maxride sebagai pemain baru transportasi online di Jogja, Dwi menilai pemerintah perlu meninjau status hukum operasionalnya berdasarkan undang-undang transportasi dan angkutan jalan. Menurutnya, kepastian regulasi menjadi kunci agar ekosistem transportasi dapat berjalan adil dan terkontrol.
"Harus dilihat dari undang-undang transportasi. Apakah Maxride termasuk kendaraan umum dan diakui. Jika iya, maka bisa segera dapat izin," jelasnya. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita