Hasto mengatakan, pembersihan baliho bergambar kepala daerah dilakukan untuk mendukung pembersihan sampah visual.
Sekaligus menindaklanjuti keinginan dari Komite Ekonomi Kreatif yang sebelumnya meminta baliho kepala daerah bisa mendukung kegiatan publik.
“Saya memulai dari diri saya sendiri. Kalau ada gambar-gambar saya, gambar wali kota dan wakil wali kota yang dipajang di mana-mana itu kalau hanya menjadi sampah visual, untuk apa,” ujar Hasto seusai penurunan baliho.
Bupati Kulon Progo periode 2011-2019 itu menyatakan, ada tujuh baliho bergambar dirinya yang diturunkan.
Kemudian setelahnya bakal diganti dengan pesan-pesan yang bermanfaat. Misal, seperti langkah-langkah penurunan stunting.
Hasto berharap, langkahnya tersebut bisa diikuti oleh kepala daerah lain di DIY. Sehingga pesan-pesan dari pemerintah bisa disampaikan lebih bermanfaat dibandingkan pencitraan kepala daerah.
“Karena memang tidak penting-penting amat untuk memasang foto kami (kepala daerah),” tegas Hasto.
Sementara itu, Ketua Ekonomi Kreatif Kota Jogja M. Arief Budiman mengapresiasi langkah dari wali kota.
Sebab menurutnya, baliho jika hanya bergambar foto kepala daerah maka pesan komunikasinya tidak akan efektif.
Arief menilai, dengan adanya komitmen tersebut tentu juga akan membuat wajah Kota Jogja lebih tertib dan bersih.
Dia pun berharap juga ada kebijakan khusus terhadap kampanye calon kepala daerah menjelang pemilu.
Contohnya, tidak ada lagi baliho kampanye yang dipasang pada pohon atau tempat-tempat yang bukan peruntukannya. Lantaran fenomena tersebut selain menjadi sampah visual, juga merusak lingkungan.
“Fokus kami adalah kalau ingin dipajang, pajanglah program, atau karya, atau hasil. Sehingga masyarakat dapat mengecek dan memverifikasi janji-janji yang disampaikan kepala daerah,” katanya. (inu)
Editor : Bahana.