Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Markas Mangkubumi Bukan di Banaran Kulon Progo, Sejarawan Sebut Sunan Kabanaran Naik Takhta di Banaran, Sragen

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 21 November 2025 | 03:59 WIB

Lukisan yang menggambarkan Pangeran Mangkubumi atau Susuhunan Kabanaran atau  Sri Sultan Hamengkubuwana I.
Lukisan yang menggambarkan Pangeran Mangkubumi atau Susuhunan Kabanaran atau Sri Sultan Hamengkubuwana I.
JOGJA - Ini masukan yang penting diketahui dan didengar Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta Pemprov DIY. Kedua institusi negara itu ada baiknya lebih cermat menggunakan referensi sejarah saat memilih nama Jembatan Kabanaran menggantikan sebutan Jembatan Pandansimo.

Sebab, pemilihan Kabanaran dengan mengaitkan lokasinya di Desa Banaran, Galur, Kulon Progo, dulunya merupakan markas perjuangan Pangeran Mangkubumi dinilai tidak didukung fakta dan akar sejarah yang kuat.

“Keliru kalau menyebut markas perjuangan Pangeran Mangkubumi berada di Kabaran, Galur, Kulon Progo. Mangkubumi jumenengan atau naik takhta sebagai Susuhunan Kabanaran atau Sunan Kabanaran di Desa Kabanaran, Sukawati, Sragen, pada 11 Desember 1749,” ujar Ketua Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta Chatarina Etty Sulistya, Kamis (20/11/2025).

Rina, sapaan akrabnya, menegaskan, selama melawan Belanda, putra Susuhunan Amangkurat IV dengan Mas Ayu Tejawati itu tidak pernah berjuang di daerah pesisir selatan Kulon Progo. Alasannya, daerah tersebut masih berupa hutan belantara. “Tasih gungliwang liwung,” cerita sejarawan berlatar belakang guru ini.

Kembali ke markas Mangkubumi di Desa Banaran, Sragen, Rina sebulan lalu baru saja datang ke lokasi. Bersama sejumlah anggota Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta, dia kerap wira-wiri Jogja-Sragen. Sccara khusus dia mengadakan penelitian.

Hasilnya Rina menemukan lokasi jumenengan Mangkubumi sebagai Sunan Kabanaran itu ditandai sebuah patok. Wujudnya yupa dari batu putih dengan tinggi 143 cm. Masyarakat setempat menyebutnya Gada Setiaki.

Rina juga pernah diundang berbicara di sarasehan sejarah di pendapa Sumanegaran Rumah Dinas Bupati Sragen pada Jumat 27  Januari 2023.  Dia mengangkat materi “Keraton Sakawati di Bhumi Sukowati, Mitos atau Fakta”?

Menurut dia, Desa Kabanaran Sukawati, sekarang menjadi Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Desa Kabanaran itu terbelah Bengawan Solo. Sebagian masuk Desa Banaran di Sambungmacan dan sisanya, Desa Kandangsapi di Kecamatan Jenar, Sragen.  Berdekatan dengan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Petunjuk Desa Kabanaran berada di Sragen, menurut Rina dapat dilacak dari Babad Giyanti karya Yasadipura I. Juga di buku M.C. Ricklef berjudul Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1742-1792.

Baca Juga: Pelatih PSIM Van Gastel Siapkan Antisipasi jika Cahya Supriadi dan Raka Cahyana Absen Lawan Bhayangkara

Seperti diketahui, nama Kabanaran sempat disinggung Presiden Prabowo Subianto dan Menteri PU Dody Hanggodo saat  peresmian Jembatan Kabanaran pada Rabu (19/11/2025). Keterangan lebih detail disampaikan Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Madya Dinas Kominfo DIY Ditya Nanaryo Aji. 

Dikatakan Ditya, lokasi Jembatan Kabanaran merupakan markas perjuangan Pangeran Mangkubumi melawan Belanda. Tepatnya di Desa Kabanaran yang sekarang bernama Kalurahan Banaran.

"Nilai penting lokasi tersebut diharapkan mampu menjiwai dan dimaknai sebagai upaya kebersamaan dalam perjuangan, ketangguhan, kebersamaan dalam mencapai cita-cita dalam kepemimpinan Pangeran Mangkubumi," kata Ditya.

Di bagian lain, pengamat sejarah sekaligus filolog dari Sraddha Institute Surakarta Indra Agusta meragukan lokasi Desa Kabanaran berada di Galur, Kulon Progo. Berdasarkan sejarahnya,  dulunya daerah pesisir selatan wilayah Mataram yang sekarang masuk Bantul dan Kulon Progo dikuasai  Sunan Paku Buwono III.

Itu dikuatkan dengan keberadaan makam leluhur Mataram Rajaniti IV yang berada di daerah Sanden, Bantul.  “Kecil kemungkinannya. Setelah Giyanti, Sanden menjadi tanah enclave Surakarta,” katanya.

Pria asli Sragen ini justru condong dengan tesis dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Jogja Galih Adi Utama. Setelah dari Sukawati, Mangkubumi bergerak ke daerah Kedu. Tepatnya di daerah Sindoro-Sumbing. Dari sana berpindah ke perbukitan Menoreh. Saat berada di wilayah Mataram itu, Mangkubumi mendeklarasikan diri sebagai Susuhunan Paku Buwono III.

Gelarnya Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama. “Naik takhta Mangkubumi ini di Desa Banaran dekat Dekso, Kulon Progo.

Tapi lokasinya bukan di Galur yang sekarang dibangun jembatan,” terangnya. Petunjuk Desa Banaran di Dekso itu dikuatkan dengan keberadaan beberapa makam tua di sana. “Nisan-nisanya zaman Mangkubumen,” katanya.

Lantaran berada di Desa Kabanaran, Mangkubumi juga dikenal dengan sebutan Sunan Kabanaran.  Sebagai patih, diangkat keponakan sekaligus menantunya RM Said atau Pangeran Sambernyawa. Peristiwanya terjadi pada 11 Desember 1749.

Empat hari kemudian, putra mahkota PB II yang bernama Raden Mas Gusti (RMG) Suyadi juga naik takhta dengan gelar yang sama dengan Mangkubumi, Paku Buwono III. Bedanya Mangkubumi bertakhta di luar istana. Ada dua Paku Buwono kembar.

Soal gelar, Rendra mencatat, Mangkubumi sering berganti-ganti. Sempat memakai sebutan Sunan Sukawati, lalu Sunan Kabanaran dan kemudian Sunan Paku Buwono. Bahkan Mangkubumi enggan melepas nama Paku Buwono.

Meski sudah meneken Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 dan Mangkubumi tak segera memakai gelar baru Sultan Hamengku Buwono I.  “Sampai lebih dari 9 tahun setelah Giyanti masih pakai sebutan Paku Buwono. Sultan Paku Buwono. Dari awal Mangkubumi ingin memakai gelar Sunan Paku Buwono,” paparnya.

Dalam perkembangan berikurnya, setelah Mangkubumi meneken Perjanjian Giyanti dan diangkat sebagai raja oleh VOC meski hanya atas separo Mataram, koalisinya dengan RM Said pecah. Keduanya yang semula sekutu berubah menjadi seteru. Dari kawan beralih sebagai lawan. Mereka saling serang dan menjadi musuh bebuyutan. Perjanjian Giyanti menjadi ekor dari perpecahan Mangkubumi dengan RM Said. (oso/kus/laz)

 

   

 

 

Editor : Herpri Kartun
#RM Said #Kulon Progo #sultan hamengku buwono I #MC Ricklef #Pangeran Sambernyawa #Mangkubumi #sragen #Ditya Nanaryo Aji #Raden Mas Gusti #Kabanaran #Pangeran Mangkubumi #banaran #Sultan Paku Buwono #bengawan solo #Takhta #jembatan pandansimo #Chatarina Etty Sulistya #Sunan Paku Buwono III #kementerian pekerjaan umum #sukawati #Gada Setiaki