Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Influenza A Meningkat di Musim Pancaroba, Ahli Epidemiologi UGM Minta untuk Waspadai Penurunan Imunitas

Fahmi Fahriza • Senin, 3 November 2025 | 03:40 WIB
Dr Riris Andono Ahmad, Ahli epidemiologi dari Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM.
Dr Riris Andono Ahmad, Ahli epidemiologi dari Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM.

JOGJA - Memasuki musim pancaroba, masyarakat untuk mewaspadai peningkatan penyakit infeksi saluran pernapasan, terutama Influenza A. Perubahan cuaca yang tidak menentu, dari panas terik hingga hujan dan suhu dingin, membuat daya tahan tubuh mudah menurun dan virus lebih mudah menyebar.


Ahli epidemiologi dari Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (PKT UGM) dr Riris Andono Ahmad menjelaskan, virus influenza A sejatinya memiliki tingkat bahaya tinggi di negara empat musim. Ini karena bisa menimbulkan kasus berat hingga kematian.


"Influenza A sangat berbahaya di negara empat musim, dengan risiko yang besar, bahkan bisa menimbulkan kematian. Namun di negara dua musim seperti Indonesia, kasus influenza A ini juga tidak bisa dianggap enteng karena persebaran dan mutasinya cepat," jelasnya, Minggu (2/11/2025).


Riris memaparkan, salah satu faktor penularan tercepat influenza adalah interaksi sosial. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga langkah-langkah proteksi dasar.


"Penting untuk melakukan proteksi seperti rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, pakai masker, dan jaga jarak interaksi dengan individu yang terjangkit," ujarnya.


Menurut Riris, individu yang sedang sakit juga harus lebih sadar agar tidak menularkan virusnya ke orang lain. "Mereka harus punya inisiatif untuk menggunakan masker, memakai hand sanitizer, agar tidak menulari orang lain," tambahnya.


Disampaikan, influenza A merupakan salah satu tipe virus flu yang paling sering menyebabkan wabah musiman. Penularannya terjadi melalui percikan batuk, bersin, maupun kontak dengan permukaan yang terkontaminasi. Gejala yang muncul umumnya meliputi demam tinggi, batuk kering, nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan rasa lemas berkepanjangan.


Kondisi pancaroba juga memperkuat penyebaran virus karena fluktuasi suhu dan kelembapan udara. Selain itu, peningkatan polusi dan debu di udara dapat mengiritasi saluran napas sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi.


Riris menuturkan, vaksin influenza menjadi langkah penting dalam pencegahan. Fungsi utama vaksin adalah memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit tanpa harus mengalami sakitnya terlebih dahulu.


"Setelah disuntikkan vaksin, sistem imun akan belajar mengenali virus dan membentuk antibodi. Jadi ketika seseorang terpapar virus influenza asli, tubuh sudah siap melawannya," jelasnya.


Meski vaksin tidak sepenuhnya mencegah penularan, vaksinasi dapat mengurangi risiko infeksi berat, mempercepat pemulihan, dan menekan risiko komplikasi seperti pneumonia. Terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.


Selain itu, vaksin juga membantu membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) dan diperbarui setiap tahun untuk menyesuaikan dengan mutasi virus yang terus berkembang.


"Vaksin sendiri sudah ada, walau mungkin belum semua orang tahu atau bisa akses. Kalau tidak salah sekali vaksin Rp 300 ribu," ungkapnya. (iza/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#vaksin #penularan #UGM #masker #virus influenza a #musim pancaroba #herd immunity #mutasi #influenza a #wabah #infeksi #Hand Sanitizer #sistem imun #nyeri