RADAR JOGJA - Dunia kesenian wayang tengah diselimuti kabar duka.
Ki Anom Suroto, dalang kondang asal Kabupaten Sukoharjo tutup usia pada hari ini.
Ki Anom Suroto meninggal dunia usai dirawat di RS dr Oen Kandang Sapi selama lima hari.
Ki Anom Suroto meninggal sekitar pukul 07.00 WIB pagi tadi.
Mari kita mengenang kisah perjalanan dalang kondang Ki Anom Suroto.
Ki Anom Suroto atau Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro lahir pada 11 Agustus 1948.
Ki Anom Suroto mulai dikenal sebagai dalan pada tahun 1975-an.
Ki Anom mulai mempelajari dunia pedalangan dari ayahnya Ki Sadiyun Harjadarsana, pada usianya yang masih 12 tahun.
Ki Anom juga pernah belajar Kursus Pedalangan yang diselenggarakan oleh Himpunan Budaya Surakarta (HBS).
Bahkan dia pernah juga belajar di Habiranda, Yogyakarta menggunakan nama samaran Margono.
Perjalanan ki Anom Suroto dimulai saat ia tampil di Radio Republik Indoesia (RRI) pada tahun 1968, setelah melalui seleksi ketat.
Pada tahun 1995 Ki Anom mendapatkan Satya Lencana Kebudayaan RI dari Presiden Soeharto.
Dan Pada 1997 Ki Anom diangkat sebagai Bupati Sepuh dengan nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro.
Ki Anom Suroto menjadi satu-satunya dalang yang perbah mendalang di lima benua hingga akhir abad ke-20 ini.
Pada tahun 1991 ia mendalang di Amerika Serikat dalam rangka Kebudayaan Indonesia di AS (KIAS).
Ia juga pernah mendangan di Spanyol, Jerman Barat, Jepang, Australia, hingga Rusia.
Ki Ano pernah dikirim ke India, Nepal, Thailand, Mesir, hingga Yunani oleh Dr Soedjarwo, Ketua Umum Sena Wangi, dalam rangka menambah wawasan pedalngan mengenai dewa-dewa di negara tersebut.
Selain mendalang, Ki Anom Suroto juga menciptakan gending-gending Jawa, diantaranya Berseri, Mas Sopir, Nandur Ngunduh, dll.
Selain itu, ia juga menciptakan sanggit lakon sendiri antara lain Semar Mbangun Kahyangan, Anoman Maneges, dll.
Ki Anom juga giat membina dan membimbing dalang-dalang muda baik di daerahnya maupun di daerah lain.
Setiap Rabu Legi ia mengadakan forum kritik pedalangan dengan konsep sarasehan, yang dinamakan dengan Rebo Legen.
Acara ini merupakan tempat silaturahmi para seniman dan tempat mereka bertukar pikiran. (Nauralya D)