JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja meminta masyarakat untuk waspada terhadap potensi peningkatan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Pasalnya, selama musim pancaroba seperti sekarang temuan penyakit tersebut naik signifikan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah mengatakan, kondisi cuaca ekstrem seperti panas terik kemudian tiba-tiba hujan dapat melemahkan imunitas tubuh. Sehingga cenderung lebih mudah terserang penyakit.
“Kondisi cuaca ekstrem dengan suhu panas berlebih memang meningkatkan penyakit pernafasan,” ujar Lana saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Senin (20/10/2025).
Kondisi itu dibuktikan dengan peningkatan kasus di puskesmas yang cukup signifikan. Misalnya hingga minggu ke-41 tahun ini sudah tercatat 2.095 kasus.
Jumlah itu naik sebanyak 161 dibandingkan minggu ke-40 atau sepekan sebelumnya. Sementara untuk dua pekan sebelumnya, atau di minggu ke-39 tercatat 1.756 kasus atau naik sebanyak 339 kasus dibandingkan minggu ini.
Guna mengantisipasi paparan penyakit, Lana menghimbau agar masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Serta minum air putih minimal dua liter per hari agar terhindar dari dehidrasi.
Selain harus mewaspadai wabah ISPA, Lana menyatakan, kondisi cuaca panas juga dapat menyebabkan heat stroke. Yakni sebuah kondisi dimana tubuh gagal mengatur suhu intinya di tengah paparan panas ekstrem.
Meskipun belum ada temuan kasus di Kota Jogja. Penyakit tersebut dapat mengancam masyarakat yang sering melakukan aktivitas luar ruangan saat kondisi sedang panas terik.
“Sehingga diupayakan jangan banyak beraktivitas saat cuaca terik, serta pakai alat pelindung diri saat panas dan hujan,” pesan Lana.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas menyampaikan, suhu udara di DIY diprediksi dapat mencapai 35 derajat celcius. Suhu tertinggi yang tercatat mencapai 33,6 derajat celcius pada tanggal 6 Oktober 2025
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan suhu udara terasa panas. Di antaranya karena ada aliran angin dari arah tenggara yang bersifat kering dengan tingkat kelembapan udara rendah.
Kemudian kondisi cuaca yang cenderung cerah pada siang hari juga menyebabkan penyinaran matahari tidak terhalang oleh awan. Sementara jika sore cenderung berawan, sehingga menyebabkan panas dari permukaan bumi tertahan oleh awan.
“Selain itu, posisi matahari sejak bulan September relatif dekat dengan ekuator. Sehingga intensitas radiasi matahari relatif tinggi,” beber Reni. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin