JOGJA - Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMA pada dua sekolah di Kota Jogja, menjadi sorotan legislatif. Dewan mendorong ada intervensi Pemkot Jogja dalam hal pengawasan dapur penyedia MBG.
Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja Darini mengatakan, secara khusus pemkot memang tidak memiliki tugas mengawasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebab itu merupakan program nasional.
Namun pemkot, khususnya Dinas Kesehatan (Dinkes) harus melakukan intervensi. Lantaran menyangkut keselamatan masyarakat Kota Jogja. Terkhusus anak-anak yang menjadi penerima manfaat MBG.
“Mereka (Dinkes) harus hadir untuk mengetahui di dapur itu bagaimana sih, ada kandungan apa sih, seperti itu," ujar Darini saat mengunjungi SMAN 1 Jogja, Jumat (17/10).
Politisi PDI Perjuangan ini juga mendesak supaya pemkot melakukan evaluasi dan pengawasan ketat terhadap manajemen pengolahan dapur SPPG. Sehingga harapannya kasus keracunan tidak kembali terulang.
Sebagaimana diketahui, kasus keracunan MBG di Kota Jogja terjadi pada dua SMA. Yakni SMAN 1 Jogja dengan jumlah korban 426 siswa. Serta SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta (Mutu) berjumlah 65 siswa.
"Kami sudah lega, karena tadi sudah dijelaskan oleh kepala sekolah bahwa anak-anak tidak yang sampai ke rumah sakit,” ucap Darini.
Darini pun menyatakan dukungan penuh terhadap langkah kepala daerah yang menghentikan sementara operasional SPPG Wirobrajan pasca kasus keracunan. Sehingga penyebab pasti keracunan bisa diselidiki.
Sembari menunggu hasil laboratorium sampel makanan, dia mengingatkan agar dapur SPPG memperhatikan waktu pengolahan makanan. Agar kemudian makanan masih dalam kondisi layak ketika diberikan kepada siswa.
“Jangan sampai masaknya sudah terlalu malam, terus makannya siang, otomatis mesti basi,” sebutnya
Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Nurcahyo Nugroho justru meminta agar ada pola pengaturan memasak dan distribusi makanan di SPPG. Lantaran diketahui siswa SMA mendapatkan distribusi paling akhir.
Sementara siswa SD dan SMP yang distribusi MBG-nya lebih pagi cenderung aman dari keracunan. “Antara jam memasak dan distribusi makanannya harus disesuaikan,” tegasnya. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita