JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mulai bergerak melakukan uji lab pada sample menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan ke SMAN 1 Jogja. Hal itu sebagai tindak lanjut adanya kasus keracunan yang diduga dari menu MBG pada hari Rabu (15/10) lalu.
"Sesuai dengan kedudukan dan tugas pokok kami adalah mengoordinasikan upaya-upaya penyelidikan epidemiologi pada sekolah (yang terjadi) kasus (keracunan)," ujar Plt Dinkes DIJ Akhmad Akhadi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (17/10).
Selain itu, pihaknya juga mengintruksikan Dinkes kabupaten/kota agar melakukan pengamanan terhadap sisa makanan sebagai sample. Inspeksi langsung juga telah dilakukan ke SPPG yang mendistribusikan makanan olahan bermasalah.
"Kami memang sudah mengamankan sisa (MBG) itu, tapi belum bisa memastikan (hasilnya)," bebernya.
Menurutnya, sesuai prinsip apabila terdapat kejadian keracunan, maka semua makanan yang disajikan patut diduga menjadi penyebab. Pihaknya baru bisa menyimpulkan bahan makanan mana yang menjadi penyebab utama setelah hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh. "(Uji lab) paling cepat tujuh hari," terangnya.
Berdasarakan informasi awal yang ia terima, ada yang mengatakan makanan yang bermasalah dalam menu MBG di SMAN 1 Jogja adalah ayam. Namun ada juga yang mengatakan berasal dari tahu yang rasanya sudah asem.
Menurutnya, dua bahan itu berisiko rentan mengalami penurunan kualitas. Bisa dikarenakan waktu penyimpanan yang melebihi ambang batas, proses pengolahan, cara mengolah, dan pengepakannya. "Risikonya itu saya belum berani menyimpulkan. Saya harus hati-hati mengatakan itu," tegasnya.
Data yang dibutuhkan untuk meneliti yakni dimulai waktu kejadian, saat kejadian, hingga waktu yang dibutuhkan dari selesai masak sampai dikonsumsi siswa. "Itu harus kami analisa juga," tambahnya.
Menurutnya, protokol dan prosedur di setiap SPPG telah ditentukan. Namun ia tidak bisa memastikan apakah itu dilakukan atau tidak. Prosedur itu, di antaranya, memuat proses penanganan makanan hingga hal-hal yang harus diperhatikan oleh para pengelola.
"Jadi makanan itu setelah diolah dan dikirim ke sekolah-sekolah, penanggung jawab SPPG harus melakukan uji organoleptik," ucapnya.
Uji organoleptik adalah upaya memeriksa makanan yang sudah diolah dari pengamatan bentuk, warna, dan penampakan visual. Memastikan makanan apakah berair atau berlendir dengan memegang, mencium dan merasakan makanan sebelum dibagikan.
"Apakah ada bau makanan tidak layak dan merasakan, apakah makanan sudah basi atau tidak. Nah itu tidak tahu apakah dilakukan atau tidak," tandasnya.
Terpisah, Radar Jogja kemarin mencoba mendatangi lokasi SPPG Wirobrajan. Tidak ada aktivitas yang mencolok di tempat itu. Hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir di halaman rumah. Satu mobil boks diparkir di bagian pinggir rumah.
"Kami tetap beroperasi, tapi kita nunggu dari Badan Gizi Nasional (BGN)," ujar seseorang yang keluar dari dalam bangunan SPPG setelah diketuk pintunya.
Bahkan belum sempat menanyakan nama, ia kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Tak berselang lama, orang yang sama keluar lagi dan mengunci gerbang besi depan rumah dan menutupnya dengan rapat. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita