Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menu MBG Dinilai Sudah Bergizi, tapi Kebersihan Masih Dikeluhkan Para Siswa

Cintia Yuliani • Senin, 6 Oktober 2025 | 04:11 WIB

 

 

Siswa SMAN 1 Bantul Marselinus Adrian Jova Mahardika
Siswa SMAN 1 Bantul Marselinus Adrian Jova Mahardika

BANTUL - Banyaknya kejadian luar biasa (KLB) keracunan MBG membuat sebagian besar  siswa dan orang tua khawatir.  Seperti orang tua siswa penerima manfaat MBG di SMPN 2 Bantul Anggit Nur Rohman yang merasa khawatir jika terjadi keracunan kepada anaknya pada saat menyantap MBG.

"Kekhawatiran jelas ada. Makanya mulai hampir satu bulan ini anak saya nggak mau makan MBG-nya,” jelasnya saat dihubungi lewat telepon Minggu (5/9/2025).

Maka dari itu, satu bulan terakhir ini anaknya selalu dibawakan bekal makan dari rumah. Sementara MBG yang didapatnya dibawa pulang.

Sekolah tempat anaknya belajar sudah mulai menerima program MBG sejak semester dua tahun ajaran 2024/2025. Ia mengaku, awalnya sang anak selalu makan dengan lahap dan menghabiskan jatah MBG setiap hari. Namun setelah mendapati ompreng yang terlihat tidak bersih, selera makan anaknya pun menurun.

"Tempat makannya mungkin terlalu banyak ditangani, ribuan dalam satu hari. Mungkin dalam membersihkan dirasa kurang higienis, jadi kurang sreg bagi anak saya,” katanya.

Ditambah lagi, lanjutnya, marak kasus keracunan di beberapa sekolah karena MBG. Ia mengaku dari segi menu MBG tidak ada masalah dan sebenarnya bisa diterima oleh anaknya. Secara gizi pun  juga terpenuhi. “Ada buah, susu, lauk, sayur, nasi, itu bergizi,” jelasnya.

Ia menilai walaupun banyak kasus MBG yang sedang marak terjadi, menurutnya, program MBG bagus. Akan tetapi mekanisme untuk penangananya yang perlu dievaluasi lagi.

"Kalau makan sebenarnya orang tua mampu. Lebih bagus malah ke program-program peningkatan kualitas pendidikan,” sarannya.

Menurutnya, program yang digadang-gadang gratis itu seharusnya benar-benar difokuskan untuk peningkatan kualitas, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan makan. Sebab, investasi yang digelontorkan sudah luar biasa besar, namun dinilai belum tepat sasaran.

Ia menyarankan mekanisme pelaksanaan program bisa meniru sistem yang sudah berjalan di salah satu sekolah di Solo. Di sana, pengelolaan dapur dilakukan langsung oleh sekolah, sehingga lebih mudah diawasi.

"Kalau seperti itu mungkin malah bisa di tangani. Jadi artinya bisa ditangani pihak sekolah atau mungkin ada SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi)  tapi menangani porsi beberapa saja. Jangan sampai ribuan,” tegasnya.

Menurutnya, jika pengelolaan diserahkan ke sekolah, maka orang tua maupun siswa bisa dengan jelas meminta pertanggungjawaban apabila terjadi sesuatu.

"Sekarang kan bingung orang tua. Misalnya ada kasus keracunan, mereka mau minta pertanggungjawaban kepada siapa,” tuturnya.

Ke depan jika pemerintah tetap melanjutkan program tersebut, ia berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaannya. Kapasitas dapur yang terlalu besar dinilai menjadi salah satu persoalan utama.

Dengan jumlah mencapai lebih dari 3.000 porsi dalam SPPG proses memasak terpaksa dimulai sejak malam hari, bahkan sekitar pukul 22.00 atau 23.00. Memasuki dini hari, kegiatan memasak dilanjutkan dengan proses pengemasan agar siap dibagikan pada pagi hari. Padahal, makanan baru dikonsumsi siang harinya.

Kondisi itu membuat makanan berisiko kehilangan kualitas dan kebersihannya. Ia menilai, meskipun menu yang disajikan tergolong sehat, proses penyajiannya justru kurang higienis. Hal inilah yang perlu dievaluasi agar tujuan program untuk meningkatkan gizi dan kualitas anak didik tidak berbalik menjadi masalah baru.

Sementara itu, siswa SMAN 1 Bantul Marselinus Adrian Jova Mahardika mengatakan, ada rasa khawatir keracunan MBG. Namun, ia tetap memakan menu yang diberikan. "Kalau nggak dimakan mubazir. Jadi tiap hari dimakan sebisanya harus dimakan,” jelasnya.

Menurutnya, pada awalnya ia kurang menyukai rasa menu MBG yang diberikan. Namun sekarang rasa menu MBG dinilai lebih enak. “Menu yang paling disukai chiken katsu,” katanya.

Sedangkan menu yang jarang dimakan tempe dan tahu. Ia menilai menu MBG yang disajikan bergizi karena ada sayur, lauk, buah, susu, dan nasi.

Ia pun mengaku jika semua lauk MBG dirasa enak. Ia selalu menghabiskan. Namun jika dirasa ada salah satu yang kurang enak, ia tidak menghabiskannya. “Tapi seringnya habis,” katanya.

Namun ia mengaku ada kendala pada menu yang berkuah. Kuah dari lauk kerap tumpah dan mencampuri makanan lain seperti sayur, nasi, buah, dan lauk lainnya. Kondisi itu membuat opreng terlihat kurang bersih.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar lauk berkuah sebaiknya dikemas terpisah. Ini agar kuahnya tidak berceceran dan makanan tetap higienis.

Selain itu, ia juga berpesan kepada pihak SPPG agar pilihan menu MBG disesuaikan dengan selera anak-anak zaman sekarang. Dengan begitu, makanan bisa lebih dinikmati dan tidak ada lagi yang terbuang percuma. (cin/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#keracunan mbg #klb #SPPG #gizi