JOGJA - Tragedi 1965 terkait gejolak pemberontakan PKI terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk DIY. Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah gugurnya Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Darmokusumo dan Kolonel Inf (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto.
Sejarawan sekaligus akademisi Universitas Sanata Dharma (USD) Jogjakarta Fransiskus Xaverius Baskara Tulus Wardaya yang konsen meneliti kronik Gerakan 30 September, mengutip pernyataan Presiden Soekarno dari beberapa sumber yang didapatkan, peristiwa pembantaian pada 30 September 1965 beserta seluruh komplikasi yang terjadi di hari-hari itu, disebabkan dari tiga hal.
"Intervensi kekuatan neokolonialisme dan neoimperialisme pihak luar. Kemudian konflik internal di tubuh militer, dan keblingernya para pemimpin PKI," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon Minggu (28/9).
Ia kembali menegaskan, keblingernya PKI bukan muncul dari akar rumput, melainkan para petingginya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia maupun di DIY, diduga merupakan bagian dari tiga hal itu.
"G30S itu dipimpin Letkol Untung dan Kolonel Abdul Lathif. Di balik gerakan itu merupakan orang militer, bukan kelompok sipil," bebernya.
Pernyataan tersebut didukung karena pada waktu itu posisi PKI di Indonesia merupakan partai politik legal dan sedang naik daun dengan massa cukup banyak. Sehingga logika awal mula melakukan kudeta berasal dari gerakan sipil potensinya kecil.
G30S, menurutnya, merupakan gerakan rahasia yang diduga hanya diketahui oleh kalangan elite partai. "Saya kira (Diculik dak dibunuhnya Kol Sugiyono dan Brigjen Katamso, Red) bagian dari itu. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta," jelasnya.
Ia belum meengetahui secara rinci penyebab kematian dua pahlawan revolusi dari Jogja itu. Namun dalam konteks nasional, ia menghubungkannya dengan ketidakjelasan informasi apa yang terjadi di Jakarta.
Ia meyakini ada kelompok militer yang berniat mengadakan penggeseran (kudeta) terhadap kubu tentara yang lain. "Keblingeran itu yang merambat ke daerah- daerah seperti Jogja, Semarang, dan sebagainya," tuturnya.
Terkait korban peristiwa yang terjadi September-Oktober 1965 itu, lanjutnya, tokoh yang gugur di Jogja dari kubu militer sepengetahuannya hanya dua itu. Peristiwa kematian dua petinggi tentara ini terjadi di daerah Kentungan, Sleman. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita