GUNUNGKIDUL - Di sebuah dusun kecil bernama Kembang, Kalurahan Botodayakan, Kapanewon Rongkop, suara gamelan dan alunan tembang Jawa bukan hal asing. Di tengah suasana pedesaan yang tenang, lahirlah seorang anak yang kini menjadikan pedalangan sebagai jalan hidupnya. Dialah Bambang Widjanarko.
Sejak kecil, Bambang sudah akrab dengan bayangan tokoh-tokoh pewayangan yang menari di balik kelir. Bukan kebetulan, ayahnya seorang dalang. Tradisi itu melekat begitu kuat, sehingga tanpa diminta pun Bambang kecil sudah menaruh minat pada dunia pedalangan.
"Aku mulai ndalang sejak kelas dua SD. Dari kecil memang sudah terbiasa melihat bapak main wayang. Lingkungan desa juga mendukung. Hampir setiap tahun ada rasulan, ruwatan atau pertunjukan wayang. Semua itu menumbuhkan rasa cinta saya pada kesenian," kenangnya.
Bagi Bambang, desa adalah sekolah kebudayaan. Dari lingkungannya yang kaya tradisi, ia belajar banyak hal. Lebih dari sekadar teknik mendalang. Selain itu, dalang Gen Z ini juga melihat ekosistem kebudayaan yang tumbuh di desa adalah mata pengetahuan pertamanya.
Dari desalah ia mengenal reog, jathilan, campursari, dan berbagai alat musik tradisional. Itu semua, cerita Bambang, yang menguatkan ikatan dirinya dengan seni.
Bahkan sejak TK ia sudah ikut sang ayah mendalang. Meski sering mengantuk dan hanya menyimak bagian goro-goro atau sabetan, pengalaman itu meninggalkan rekaman mendalam di ingatannya.
Tradisi wayang yang hadir dari dusun ke dusun, dari panggung kecil hingga acara besar, menanamkan keyakinan bahwa kesenian hidup karena desa yang merawatnya. Bambang juga tidak berjalan sendiri. Dukungan perawit, teman-teman, bahkan warga sekitar membuat perjalanan seninya semakin kokoh.
"Seorang dalang akan lebih bersemangat kalau didukung lingkungan. Itulah yang saya dapat di sini,” kata Bambang.
Wayang, bagi Bambang, adalah warisan luhur dengan pakem atau paugeran yang wajib dihormati. Namun ia juga sadar, zaman terus bergerak. Menurutnya, generasi muda tidak bisa didekati hanya dengan pola lama.
"Kalau hanya berpegang pada bahasa Kawi atau krama inggil, penonton muda bisa bosan karena tidak mengerti. Maka saya selipkan bahasa ngoko atau istilah yang akrab dengan generasi sekarang. Intinya, pesan yang dibawa wayang harus sampai,” jelasnya.
Bambang tak ragu melakukan inovasi. Misalnya menambahkan tokoh baru atau mengadaptasi cerita kontemporer. Baginya, itu bukan bentuk perusakan tradisi, melainkan cara agar wayang tetap relevan.
Dari situ ia acapkali mendapat kritikan, namun tak lekas patah arang. Sebab, menurutnya, kritik justru menjadi bahan bakar untuk terus belajar. "Wayang adalah milik rakyat, bukan tontonan eksklusif. Kalau ingin generasi muda ikut mencintai, maka bahasa dan ceritanya harus akrab dengan mereka,” tegasnya.
Tantangan menjaga tradisi di tengah era digital memang tidak mudah. Banyak anak muda yang lebih tertarik dengan hiburan modern. Namun bagi Bambang, tantangan itu justru membakar semangatnya.
Bambang menyadari bahwa setiap generasi punya figur yang menginspirasi. Ia mencontohkan almarhum Ki Seno Nugroho yang dikenal mampu menghadirkan wayang dengan gaya segar dan penuh humor. Baginya Ki Seno berhasil menarik minat anak muda, sehingga kini ia jadikan bukti bahwa dengan kreativitas, wayang bisa tetap digemari.
“Saya hanya menanamkan satu prinsip, kalau bukan saya, kalau bukan kita, siapa lagi yang melestarikan? Prinsip itu yang membuat saya tetap bertahan, meski kadang ada kritik atau cemooh,” ujarnya.
Ia juga melihat banyak dalang muda bermunculan, termasuk di Gunungkidul. Festival pedalangan yang rutin digelar di daerah ini menjadi ruang bagi siapa pun untuk tampil. "Wayang sekarang tidak terbunuh oleh zaman. Justru semakin banyak dalang muda yang muncul,” katanya penuh optimisme.
Meski sering tampil di berbagai panggung, bagi Bambang, pertunjukan wayang di desa memiliki makna tersendiri. Ia percaya, desa adalah benteng terakhir sekaligus sumber kekuatan wayang.
Di matanya, wayang bukan hanya tontonan. Wayang adalah jiwa desa, napas masyarakat, dan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Dari Rongkop, semangat itu terus ia rawat agar api kebudayaan Jawa tetap menyala, tak padam oleh arus zaman.
"Pengalaman saya membuktikan, mengenal wayang itu justru dari pertunjukan desa ke desa, dusun ke dusun. Selama wayang masih dimainkan di desa, akan selalu ada generasi penerus seperti dalang, perawit, hingga pecinta wayang. Itulah yang membuat saya yakin wayang tidak akan hilang ditelan zaman,” ucapnya mantap. (bas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita