JOGJA - Tim Peneliti Universitas Widya Mataram (UWM) Jogjakarta baru saja merilis hasil penelitian yogurt seledri sebagai pangan fungsional. Di balik seledri, ternyata banyak hal yang bermanfaat bagi kesehatan. Khususnya dalam mencegah penyakit degeneratif.
“Fokus penelitian kami pada pemanfaatan seledri sebagai bahan tambahan dalam produk yogurt,” ucap Ketua Tim Peneliti Ambar Rukmini kepada Radar Jogja Jumat (19/9/2025).
Dikatakan, seledri dipilih karena memiliki kandungan fitokimia aktif seperti flavonoid dan fenolik. Berpotensi sebagai antioksidan alami. “Seledri dapat mendukung keseimbangan mikrobiota usus,” tambah guru besar yang sehari-hari mengajar di Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan UWM ini.
Dari penelitian itu Ambar melihat peluang besar menjadikan yogurt seledri sebagai produk unggulan yang sehat. Mudah diterima konsumen dan bernilai tambah bagi sektor industri pangan.
Saat meneliti, perempuan kelahiran Semarang 8 Desember 1964 itu tidak sendirian. Dia didampingi tiga orang sejawatnya sebagai anggota tim. Mereka adalah Dwiyati Pujimulyani, Bahri, dan Dyah Titin Laswati.
Menurut Ambar, reformulasi yogurt dengan penambahan ekstrak seledri pada komposisi tertentu tak hanya mempertahankan kualitas sensoris produk. Namun meningkatkan kapasitas antioksidan secara signifikan. Bahkan uji laboratorium memperlihatkan peningkatan scavenging activity terhadap radikal bebas.
“Ini mengindikasikan manfaat kesehatan potensial dalam pencegahan penyakit degeneratif,” terangnya.
Seperti diketahui, penyakit degeneratif merupakan penyakit tak menular. Penyebab utamanya karena gaya hidup yang tidak sehat. Beberapa jenis penyakit degeneratif, antara lain, tekanan darah tinggi, kegemukan, diabetes melitus, kanker, dan penyakit kardiovaskular.
Tim juga mengevaluasi mikrobiota yang memperlihatkan penambahan seledri mampu mendukung pertumbuhan bakteri asam laktat. Bermanfaat bagi sistem pencernaan. Kombinasi ini menjadikan yogurt seledri sebagai kandidat kuat produk pangan fungsional.
“Mendukung gaya hidup sehat masyarakat modern,” katanya.
Penelitian tentang kasiat seledri itu bertajuk “Reformulasi Yogurt Seledri sebagai Pangan Fungsional: Optimasi Komposisi, Evaluasi Aktivitas Antioksidan, dan Profil Mikrobiota.” Fokus penelitian pada pemanfaatan seledri sebagai bahan tambahan dalam produk yogurt.
Seledri dipilih karena memiliki kandungan fitokimia aktif seperti flavonoid dan fenolik. Berpotensi sebagai antioksidan alami dan dapat mendukung keseimbangan mikrobiota usus.
Penelitian tersebut didukung dan didanai Direktorat Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi Sain dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2025.
Hasil penelitian juga menegaskan pentingnya sinergi antara inovasi pangan, kesehatan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi. Penelitian diharapkan bukan hanya memberikan kontribusi akademik. Lebih dari itu, dapat dikembangkan lebih lanjut ke arah hilirisasi produk pangan. “Khususnya produk inovatif yang berdaya saing di pasar,” harapnya. (kus/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita