JOGJA - Film pendek “Kronik Puriwicara” sukses menyuarakan pesan antikorupsi dengan gaya tanpa harus bersuara lantang. Selipan kritik tajam dari sang sutradara Riza Pahlevi terhadap praktik korupsi dalam sistem pemerintah, dibungkus rapi melalui visual mewah kerajaan, tarian tradisional Jawa, lirik lagu, dan dialog yang dimainkan.
Film “Kronik Puriwicara” menjadi salah satu film yang memenangkan penghargaan Anti Corruption Film Festival (ACFFEST) yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Film ini bercerita tentang praktik suap yang dilakukan Panji Wiratama, salah satu calon wali kota di Kerajaan Puriwicara demi memenangkan pemilu.
Untuk melawan sang kakak Dewi Kirana, Panji Wiratama rela menghalalkan segala cara. Namun tindakannya diketahui oleh menteri keuangan kerajaan Puriwicara hingga akhirnya pemilu dimenangkan oleh Dewi Kirana.
“Film ini bisa lolos karena film ini bisa menceritakan tentang suap tapi dengan gaya drama musikal yang menyatukan antara, dialog, tarian, nyanyian, kerajaan, dan suara barbie,” ujar Riza Pahlevi dalam sebuah diskusi film di Jogja, Jumat (12/9).
Pembuatan film “Kronik Puriwicara” bukan tanpa alasan. Ia ingin menyuarakan dan mengajak masyarakat untuk sadar serta berani menolak adanya praktik politik uang dalam pemilihan umum. Serta menyuarakan tentang keseteraan gender bahwa perempuan juga bisa menjadi seorang pemimpin.
“Di dalam film ini tidak hanya menggandung sistem demokrasi yang jujur dan antisuap. Tetapi terdapat seruan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Selain itu juga adanya gambaran seorang pemimpin yang bijaksana dan tidak curang,” tambah Riza Pahlevi. (mg3/laz)
Penulis: Maria Florida Namus
Editor : Herpri Kartun