JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja menangani sebanyak 39 kasus malaria. Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Anopheles sp betina itu diketahui berasal dari luar daerah.
Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah mengatakan, kasus malaria dibawa seseorang setelah bepergian dari luar daerah.
Misalnya, anggota TNI/Polri yang selesai bertugas dari wilayah endemis seperti Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Lalu, juga bisa dibawa dari mahasiswa luar daerah yang menempuh pendidikan di Jogja.
“Sehingga penularannya bukan terjadi di Kota Jogja,” ujar Lana saat dikonfirmasi, Selasa (12/8/2025).
Dia menyatakan, Kota Jogja sudah bebas malaria sejak tahun 2014. Kendati begitu, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan. Sebab, kasus impor bisa saja menjadi episentrum penularan malaria di Kota Jogja.
Apalagi, menurut Lana, Kota Jogja merupakan wilayah urban yang memiliki dinamika mobilitas penduduk dari luar kota cukup tinggi. Tidak terkecuali dari wilayah dengan status endemis malaria.
Lana mengaku, upaya untuk mencegah malaria bisa dilakukan dengan 3M Plus. Yakni menguras, menutup dan mengubur atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi jadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Kemudian juga bisa dioptimalkan dengan menggunakan lotion anti nyamuk dan gotong royong membersihkan lingkungan. Selain itu, penting untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) agar imunitas tubuh tetap prima.
Lana pun meminta agar masyarakat mewaspadai gejala malaria. Biasanya diawali dengan demam, pusing, berkeringat, menggigil, lesu, mual, muntah, sakit perut dan diare.
“Segera memeriksakan ke puskesmas atau rumah sakit jika mengalami gejala itu, terutama setelah bepergian dari daerah endemis malaria,” pesannya. (inu/zam)