GUNUNGKIDUL - Ancaman serangan mamalia endemik monyet ekor panjang (MEP) di Kabupaten Gunungkidul semakin mengkhawatirkan.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, sepanjang 2023 hingga 2024 tercatat sedikitnya 133.563 ekor MEP teridentifikasi menyerang lahan pertanian di 18 kapanewon.
Kepala DLH Gunungkidul Antonius Hary Sukmono mengungkapkan, skala serangan MEP bervariasi. Beberapa kapanewon tercatat memiliki intensitas serangan tinggi. Kapanewon Panggang, misalnya, dengan 460 ekor.
Kapanewon Gedangsari dan Girisubo masing-masing 300 ekor. Di bawahnya Kapanewon Tepus dengan 180 ekor. Terakhir, Kapanewon Ngawen 75 dengan ekor.
”Angka ini menunjukkan masalah serius yang memerlukan penanganan terpadu,” tegas Antonius di ruang kerjanya, Rabu (13/8/2025).
Antonius berpendapat serangan MEP bisa berdampak serius. Serangan MEP tidak hanya merusak tanaman. Lebih dari itu, bisa mengganggu program ketahanan pangan.
Berdasar data DLH, ada berbagai jenis kerugian yang dialami petani. Mulai rusaknya tanaman jagung, kacang tanah, hingga umbi-umbian. Kerugian tersebut tidak hanya berupa hilangnya hasil panen. Tapi juga meningkatnya biaya pengamanan lahan.
Menurutnya, sejumlah langkah telah dilakukan untuk menekan tingkat serangan. Antara lain, penghalauan langsung di lapangan, pemasangan pagar dan perangkap ramah lingkungan, serta patroli bersama warga di titik-titik rawan. DLH juga mendorong edukasi kepada kelompok tani mengenai teknik mitigasi yang aman bagi satwa. Agar upaya pengendalian tetap menjaga keseimbangan ekosistem.
”Sehingga, konflik manusia-satwa dapat ditekan tanpa mengancam kelestarian spesies,” ujarnya.
Ke depan, kata Antonius, DLH juga akan memperkuat sistem monitoring dan memperluas program pencegahan di kawasan perbatasan habitat satwa. Harapannya, langkah ini dapat mengurangi frekuensi serangan MEP, meminimalisasi kerugian, dan memastikan keberlangsungan usaha tani di Gunungkidul.
Saidi, seorang petani asal Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus mengungkapkan, harus bekerja keras untuk mengamankan tanamannya dari serangan MEP. Dia terpaksa harus memasang jaring setinggi satu setengah meter mengitari lahannya. Itu pun bagian bawah jaring harus ditimbun dengan bebatuan.
”Monyet ini pintar. Meski sudah dipasang jaring, kalau tidak diganjal batu, dia bisa masuk membuka sendiri jaring dari bawah,” tuturnya.
Sejauh ini, Saidi selalu mengamati perilaku monyet di lahannya. Pria paro baya itu menceritakan, koloni monyet yang terdiri dari 50 ekor lebih ini memiliki ketua. Ia sempat melihat, monyet yang memiliki kumis dan bertubuh besar selalu bertengger di atas pohon saat koloninya menyerang tanaman.
Pada saat itulah, kata Saidi, ketika ketua koloni MEP melihat kedatangan manusia dari jauh, ketua koloni MEP tersebut seperti memberikan instruksi.
”Kalau sudah seperti itu, monyet yang lain langsung kabur,” tambahnya. (bas/zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita