Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cegah Flare Masuk Stadion, Panpel Persebaya Siapkan 30 Unit Metal Detector Saat Menjamu PSIM Jogja di Laga Perdana Super League

Satria Putra Sejati • Rabu, 6 Agustus 2025 | 22:55 WIB
Bonek dan Bonita saat mendukung Persebaya pada Going Strong Game di Stadion Gelora Bung Tomo. (Persebaya)
Bonek dan Bonita saat mendukung Persebaya pada Going Strong Game di Stadion Gelora Bung Tomo. (Persebaya)

RADAR JOGJA - Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya Surabaya siapkan 30 unit metal detector di seluruh pintu masuk Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya saat akan menjamu PSIM Jogja pada laga pembuka BRI Super League 2025/26, seperti yang dilansir dari Jawapos.com.

30 unit metal detector tersebut digunakan untuk pencegahan masuknya flare ke dalam stadion.

Langkah ini diambil sebagai antisipasi buntut dari insiden flare besar-besaran di laga terakhir musim lalu saat menjamu Bali United.

Kala itu, Persebaya Surabaya dijatuhi denda Rp 250 juta oleh federasi karena dinilai gagal mengendalikan suporter yang menyalakan flare di tribun.

Selain itu, ada juga kejadian flare yang terakhir kali terjadi saat Green Force menjamu PSS Sleman dalam agenda launching tim di stadion yang sama.

“Flare yang terjadi di laga terakhir melawan Bali United (musim 2024/2025 lalu) dan di launching tim itu sungguh masif itu juga sangat menjadi pukulan bagi kamilah (Persebaya) karena waktu laga lawan Bali itu kami harus dapat denda 250 juta dari pihak federasi,” kata perwakilan manajemen Persebaya Surabaya Alex Tualeka, dikutip dari kanal Youtube SPECIALS ID35, Rabu (6/8).

Menurutnya, kepercayaan publik terhadap keamanan pertandingan Persebaya Surabaya menurun akibat insiden flare tersebut.

Hal itu berdampak langsung pada penjualan tiket laga perdana yang baru laku sekitar 4.000 lembar.

“Banyak yang trauma karena flare itu membuat penonton panik dan sebagian besar pulang sebelum laga usai. GBT yang kami kampanyekan sebagai stadion ramah anak, perempuan, dan keluarga jadi tidak nyaman akibat flare,” tambah Alex.

Panpel pun mengakui pengalaman buruk saat launching tim kontra PSS Sleman membuat penonton ragu membeli tiket untuk laga pembuka musim ini.

Terlebih, kemacetan parkir dan kekacauan lalu lintas penonton menambah panjang daftar evaluasi.

Baca Juga: UMY dan Lima Kampus Luar Negeri Ungkap Sisi Lain Kotagede Lewat Pameran Foto Dokumenter

Demi mencegah flare masuk ke stadion, pengamanan kali ini dipastikan lebih ketat dan sistematis. Sebanyak 30 metal detector akan dipasang di seluruh akses masuk utama Stadion GBT.

“Salah satunya adalah kami akan memaksimalkan vendor yang selama ini kami percayakan sebagai pihak body check, steward, dan lain-lain untuk kami evaluasi semuanya,” ungkap Alex.

“Kami kemudian sudah menyediakan metal detektor. Jadi memang flare itu kemarin karena penonton sejumlah puluhan ribuan itu harus masuk dalam waktu tempo jam antriannya panjang secara sehingga psikologis steward enggak mampu untuk memeriksa secara detail,” terang dia.

“Mereka masukin di kotak makan, masukin di tumbler, dan lain-lainnya itu kalau menggunakan pemeriksaan secara manual enggak bisa. hanya pemeriksaan badan begini itu enggak mampu. Akhirnya kami sudah menyediakan 30 metal detector,” ujar Alex.

Panpel juga berjanji akan mengevaluasi kinerja vendor pengamanan, steward, dan petugas body check yang selama ini dilibatkan. Mereka mengakui masih banyak kelengahan dalam proses penyekatan dan sterilisasi area tribun.

“Saat lawan PSS, banyak penonton yang seharusnya di tribun selatan bisa menonton dari timur karena penyekatan gagal. Petugas malah ikut nonton, sehingga lalu lintas penonton tidak terkendali,” tandas Alex.

Untuk laga melawan PSIM Jogja, sistem penjagaan antar tribun akan diperketat. Penonton dari tribun utara, selatan, atau barat tidak bisa sembarangan berpindah ke tribun timur.

Persebaya sebelumnya juga sudah gencar mengampanyekan bahaya flare di dalam stadion lewat media sosial dan berbagai kanal resmi klub. Mereka mengingatkan tragedi besar bisa terjadi akibat hal yang dianggap sepele seperti asap flare.

“Super League 2025/ 2026 akan dimulai pekan depan. Belum terlambat bagi kita semua untuk memusuhi flare. Kami menegaskan bahwa membawa flare ke dalam stadion adalah perbuatan membahayakan. Peraturan kepolisian pun secara jelas menyatakan demikian,” tulis manajemen Persebaya Surabaya.

Manajemen juga mengingatkan membawa flare ke dalam stadion merupakan pelanggaran hukum dan bisa dikenai sanksi pidana. Selain itu, klub juga harus menanggung denda dan sanksi dari federasi.

“Asap flare jelas membahayakan bagi kesehatan. Belum lagi ancaman kepanikan yang jauh lebih membahayakan. Tragedi terbesar di dunia sepak bola, diakibatkan kepanikan yang berlanjut ke saling injak. Kita semua tahu, diawali pitch invasion, lalu kepanikan karena asap, 135 nyawa melayang di Kanjuruhan,” imbuh manajemen.

Persebaya Surabaya berharap langkah tegas ini bisa menjadi awal baru bagi manajemen pertandingan yang lebih tertib dan aman. Mereka juga mengajak suporter untuk ikut menjaga atmosfer positif di stadion.

Dengan seluruh langkah tersebut, Panpel berharap laga perdana melawan PSIM Jogja bisa berjalan lancar dan tanpa insiden. Mereka ingin GBT kembali menjadi tempat yang nyaman bagi semua kalangan.

Editor : Satria Putra Sejati
#persebaya #persebaya surabaya #BRI Super League #green force #panpel #flare #metal detector #PSIM Jogja