SLEMAN - Peluncuran kelembagaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dilakukan telah secara serentak di seluruh Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (21/7) lalu.
Tapi kenyataannya, banyak yang masih sebatas lembaga saja alias belum beroperasi. Bagaimana dengan di DIY, apa kata dinas koperasi dan UMKM, serta pengamat ekonomi?
Di Kapanewon Pakem, Sleman, salah satu KDMP yang belum beroperasi itu adalah KDMP Purwobinangun. Carik Purwobinangun Fathuddin Sutanto menjelaskan, para pengurus KDMP bahkan belum berani mencari anggota.
Dengan demikian, belum ada modal yang dikumpulkan. Hal ini lantaran upaya yang akan dikerjakan belum benar-benar pasti. Sehingga calon anggota dinilai akan ragu-ragu untuk menyumbangkan modal.
"Belum berani mencari anggota karena yang mau dijual kepercayaan kalau koperasi," katanya. Disinggung soal unit usaha, dia sebut masih sebatas rencana, yakni sembako dan pergudangan.
Sementara simpan pinjam akan jadi unit usaha yang terakhir direalisasikan. Lantaran modalnya paling banyak.
Lokasi unit usaha sendiri berada di kios milik kalurahan. Sebelumnya kios itu disewakan warga untuk berdagang. Sekitar Juni lalu beberapa sewanya sudah berakhir dan diminta untuk tidak diperpanjang.
"Beroperasi kapan dan butuh modal berapa, belum bisa bilang. Pengurus baru sebatas perencanaan, pertemuan rutin, dan berangan-angan dulu," katanya.
Disinggung soal pengalihan usaha BUMKal menjadi KDMP, Fathuddin menyebut hal itu sulit dilakukan. Lantaran sudah ada sasarannya masing-masing. BUMKal Purwobinangun sendiri bergerak di bidang Pertashop dan peternakan kambing perah.
Sementara terkait upaya peminjaman modal, pengurus juga belum berani melakukannya. Lantaran mesti ada jaminannya, termasuk dana desa sendiri.
"Ketika pencairan dana desa memang ada komitmen kalau suatu saat dibutuhkan bersedia mengalokasikan. Tapi belum dijelaskan detailnya," tandasnya.
Di Kabupaten Bantul, meskipun telah terbentuk secara kelembagaan dan memiliki struktur kepengurusan, KDMP di Kalurahan Panggungharjo hingga kini juga belum resmi beroperasi.
Lurah Panggungharjo Ari Suryanto menyatakan, pihaknya tidak ingin terburu-buru dalam menjalankan KDMP tanpa perencanaan yang matang.
Menurutnya, keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggungharjo yang telah diakui secara nasional dan bahkan meraih penghargaan internasional di Myanmar, menjadi bukti pentingnya perencanaan yang detail. Pihaknya tidak tergesa-gesa dalam memulai usaha desa.
"Kami tidak ingin memulai koperasi tapi justru mengganggu ekonomi warga sekitar,” katanya saat ditemui di kantor Kalurahan Panggungharjo, Jumat (1/8).
Menurutnya, membuka gerai sembako di lokasi yang sudah banyak terdapat warung sembako dinilai tidak efektif karena berisiko menurunkan pendapatan warga sekitar.
Oleh karena itu, saat ini pihaknya masih akan melakukan survei untuk memastikan lokasi KDMP benar-benar strategis dan tidak mengganggu penghasilan masyarakat di sekitarnya.
"Jangan sampai koperasi sukses tapi warga tidak sejahtera,” ungkapnya. Ia menambahkan, KDMP bukan hanya soal berdagang, tapi juga soal respons sosial dan risiko kemasyarakatan yang harus dipetakan secara menyeluruh.
Oleh karena itu, pihak kalurahan masih melakukan survei terhadap lokasi dan jenis usaha yang akan dikembangkan terlebih dahulu.
Saat ini dua sektor yang menjadi prioritas untuk dirintis adalah gerai sembako dan pangkalan gas, namun tetap dengan prinsip kehati-hatian.
KDMP juga akan diarahkan menjadi mitra dari pedagang lokal, bukan pesaing. Salah satu gagasan yang tengah dikembangkan adalah menjadikan gerai sembako sebagai distributor untuk warung-warung warga. Bukan membuka toko ritel langsung yang bisa mematikan usaha kecil.
Dengan menjadi pemasok bagi warung-warung sekitar, KDMP dapat membantu mempercepat distribusi barang dan memudahkan pemilik warung mendapatkan stok tanpa harus bepergian jauh.
Terkait sektor lain seperti apotek atau klinik, pihak kalurahan juga masih melakukan koordinasi dengan fasilitas yang sudah ada.
Tujuannya agar KDMP tidak mengambil pasar yang sama, melainkan mengisi celah yang belum tergarap.
Saat ini Kalurahan Panggungharjo sudah memiliki koperasi yang bergerak di sektor simpan pinjam. Ke depan akan dipertimbangkan apakah akan digabung atau dialihkan ke dalam skema KDMP.
Namun demikian proses ini membutuhkan waktu dan persetujuan anggota koperasi lama, serta kesediaan mereka menjadi bagian dari KDMP.
"Harus kita buat skala prioritas. Jangan sampai menimbulkan masalah sosial,” tegasnya.
Ari juga menyoroti aspek pendanaan, terutama keterbatasan anggaran untuk riset pasar dan survei sosial. Ia menilai itu krusial sebelum KDMP benar-benar beroperasi.
Ditegaskan, keberhasilan usaha sangat bergantung pada riset awal yang matang. Menurutnya, tanpa adanya anggaran untuk survei lapangan, rencana pembukaan KDMP tidak bisa serta-merta langsung bisa dijalankan.
Ari juga mengingatkan dalam membangun usaha, proses awal memang harus melalui kerja keras dan persiapan. Ini agar ke depan usaha bisa berjalan dengan lebih terarah dan berkelanjutan.
"Jangan sampai nanti modal habis, pinjaman habis, tapi tidak menghasilkan,” tandasnya.
Kalurahan Panggungharjo berupaya memastikan KDMP yang dibangun bukan hanya berjalan, tapi benar-benar berdampak positif dan tidak menimbulkan benturan ekonomi di tengah masyarakat.
Menurutnya, program KDMP dari pemerintah merupakan program yang baik. Namun perlu dipersiapkan secara matang agar tujuan mulia dari program itu dapat terealisasi secara optimal. (del/cr2/laz)
Editor : Herpri Kartun