Netanyahu Rancang Pembunuhan Ayatollah Khamenei Sang Pemimpin Agung Iran, Trump Veto dan Hubungi Putin untuk Cegah Perang Besar
Meitika Candra Lantiva• Selasa, 24 Juni 2025 | 18:43 WIB
Benjamin Netanyahu (Presiden Israel), Donald Trump (Presiden AS), dan Ayatollah Khamenei (Pemimpin Agung Iran).
RADAR JOGJA - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah laporan eksklusif Associated Press mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menyetujui rencana rahasia untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Rencana ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi ofensif Israel menyusul serangkaian konflik dan serangan balasan dengan Iran.
Namun, rencana ini diveto oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang saat itu memainkan peran penting dalam menahan eskalasi global.
Konflik antara Israel dan Iran sudah berlangsung selama dekade terakhir, namun kembali memanas pada awal 2025 setelah Iran dituduh mempercepat pengayaan uranium dan memperluas pengaruh militer di Suriah dan Lebanon.
Israel, yang memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, melancarkan beberapa serangan udara terhadap fasilitas strategis di wilayah Iran dan Suriah.
Situasi makin memburuk ketika Iran membalas dengan serangan rudal balistik yang menghantam kota-kota besar Israel, termasuk Tel Aviv dan Haifa.
Dalam skenario pertahanan yang berkembang cepat, muncul desakan dari sejumlah pejabat keamanan Israel agar dilakukan serangan terarah terhadap tokoh-tokoh utama rezim Iran, termasuk Ayatollah Khamenei.
Rencana Rahasia Israel Membunuh Pemimpin Iran
Menurut laporan AP yang mengutip pejabat intelijen AS, Netanyahu menyetujui operasi khusus untuk menargetkan Ayatollah Khamenei dengan dalih melemahkan moral, struktur komando, dan daya serang militer Iran.
Operasi ini kabarnya akan dilakukan secara presisi menggunakan unit Mossad dengan koordinasi militer darat dan udara.
Namun, sumber AP menyatakan bahwa rencana tersebut belum dieksekusi karena intervensi Amerika Serikat, tepatnya Donald Trump yang kala itu, meski sudah tidak menjabat sebagai presiden, masih memiliki pengaruh besar dalam diplomasi regional.
Trump Veto Rencana Israel, Tapi Tetap Dukung Penuh
Trump, yang sejak lama dikenal sebagai sekutu dekat Netanyahu, menolak rencana pembunuhan terhadap Khamenei.
Ia menilai langkah tersebut berisiko tinggi menimbulkan perang dunia terbuka, bukan hanya konflik regional.
Ia pun menyampaikan keberatannya secara langsung kepada Netanyahu melalui saluran komunikasi tertutup.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa AS akan memberikan dukungan militer sepenuhnya kepada Israel jika negara itu diserang secara masif oleh Iran.
Dalam pernyataannya kepada penasihat keamanan, Trump mengatakan tidak akan menjadi pemicu peperangan.
"Akan tetapi bila Israel diserang sampai titik hancur, kami akan masuk dengan kekuatan penuh," ujar Trump.
Trump Hubungi Putin Memanfaatkan Diplomasi Ganda
Dalam upaya menahan konflik dari meluas ke medan global, Trump dilaporkan langsung menghubungi Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk mendiskusikan langkah-langkah de-eskalasi.
Rusia, sebagai sekutu strategis Iran di kawasan, dianggap punya pengaruh kuat untuk menahan agresi lebih lanjut dari pihak Teheran.
Sumber dari Gedung Putih menyebut bahwa pembicaraan antara Trump dan Putin berlangsung selama lebih dari satu jam dan membahas kemungkinan gencatan senjata, koridor diplomatik, hingga potensi pengawasan multilateral terhadap aktivitas militer Iran dan Israel di wilayah sengketa.
Laporan mengenai rencana pembunuhan terhadap Khamenei menuai respons keras dari berbagai negara.
Iran mengutuk keras laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “bukti bahwa Israel adalah negara teroris”.
Sementara itu, Uni Eropa dan PBB menyuarakan keprihatinan mendalam dan mendesak semua pihak untuk menghindari tindakan yang dapat memicu perang regional.
China dan Rusia sama-sama meminta penyelidikan independen terhadap dugaan plot pembunuhan tersebut dan menyebut bahwa tindakan seperti itu melanggar hukum internasional dan Piagam PBB. (Adinda Fatimatuzzahra)