Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemasangan Stairlift di Candi Borobudur Tuai Pro-Kontra, Akademisi UGM Sebut Perlu Kajian Komprehensif

Fahmi Fahriza • Rabu, 28 Mei 2025 | 04:55 WIB

 

 

 

Dwi Pradnyawan (Dosen Departemen Arkeologi FIB UGM)
Dwi Pradnyawan (Dosen Departemen Arkeologi FIB UGM)
 

JOGJA - Candi Borobudur tengah menjadi sorotan setelah diketahui sedang dalam proses pemasangan stairlift atau kursi angkat. Fasilitas ini dipasang secara insidental dan disiapkan dalam rangka menyambut kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kamis (29/5).

Pemasangan stairlift ini pun memicu pro dan kontra dari berbagai kalangan, terutama akademisi dan pengamat budaya. Salah satunya Dwi Pradnyawan, dosen Departemen Arkeologi FIB Universitas Gadjah Mada (UGM) yang banyak mendalami kajian situs dan cagar budaya Hindu-Buddha.

 Secara garis besar, sebagai arkeolog, Dwi cukup mempertanyakan apakah pemasangan ini sudah melalui kajian yang memadai, baik dari aspek budaya maupun konservasi. "Kajian yang dimaksud adalah kajian dampak cagar budaya (KDCB) atau istilah internasionalnya heritage impact asessement (HIA)," ujarnya saat dimintai tanggapan Selasa (27/5).

Menurutnya, intervensi modern terhadap bangunan kuno seperti Candi Borobudur harus dikaji secara menyeluruh. Terlebih, Borobudur merupakan situs warisan dunia UNESCO yang memiliki outstanding universal value (OUV) atau nilai universal luar biasa yang menjadi dasar utama penetapannya sebagai warisan dunia. "Ini bukan sekadar soal akses, tapi juga bagaimana menjaga nilai penting dari situs itu sendiri," paparnya.

Dalam hal ini, pemasangan stairlift sendiri memang sifatnya insidental dan nonpermanen. Namun ia juga mengkhawatirkan jika pola insidental seperti ini akan terulang kembali ke depannya. "Jika terlalu sering terjadi intervensi insidental seperti ini, bisa-bisa jadi permanen. Dan itu berbahaya," tambahnya.

Dwi juga menyampaikan kekhawatirannya terkait potensi kerusakan, baik fisik (tangible) maupun non-fisik (intangible) pada struktur maupun nilai historis Borobudur.  "Untuk kepentingan kenegaraan, boleh saja ada kebijakan khusus. Tetapi tetap harus melalui pertimbangan matang dan ada catatan dari UNESCO," pesannya.

Menurutnya, Borobudur dibangun dengan filosofi tertentu, termasuk keterbatasan akses ke bagian-bagian tertentu seperti bilik candi. "Itu bagian dari cara menghargai masa lalu. Tidak semua orang perlu atau bisa naik ke atas," ujarnya.

Dwi menegaskan, penggunaan teknologi modern bisa diterima selama bertujuan memperbaiki aksesibilitas dan dilakukan dengan prinsip konservasi ketat. Namun tetap diperlukan kajian akademik yang jelas, termasuk juga melibatkan para pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga UNESCO.

"Saya tidak menuding, tapi mempertanyakan, sudah adakah kajiannya? Karena itu penting sekali," tandas Dwi. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Universitas Gadjah Mada (UGM) #Candi Borobudur #stairlift #kajian dampak cagar budaya #presiden prabowo subianto #pemasangan #sorotan #Dosen Departemen Arkeologi FIB #Heritage Impact Assesment #UNESCO #Presiden Prancis Emmanuel Macron #Dwi Pradnyawan #warisan dunia