JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut musim kemarau tahun ini cenderung basah.
Yakni suatu kondisi musim yang seharusnya kering namun masih kerap terjadi hujan.
Berbagai potensi bahaya pun mengintai selama masa tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan gejala fisis dan data dinamika atmosfer menginformasikan monsun Australia mulai aktif di wilayah Indonesia.
Kemudian indeks El Nino Southern Oscillation dengan kategori netral juga akan bertahan hingga dua bulan kedepan.
Lalu untuk Dipole Mode Indeks diprediksi tetap pada fase netral hingga semester kedua 2025.
Sementara untuk Madden Julian Oscillation (MJO) aktif di wilayah Indonesia dengan intensitas lemah.
Reni melanjutkan, untuk anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY juga masuk kategori hangat dibandingkan dengan normalnya.
Yakni berkisar antara 28 hingga 30 derajat celcius.
Kondisi suhu muka air laut yang hangat itu juga dimungkinkan terus terjadi hingga beberapa bulan kedepan.
“Dengan mempertimbangkan kondisi dinamika atmosfer dan laut, maka prediksi curah hujan tiga bulan kedepan berpotensi atas normal dan berpotensi terjadi musim kemarau basah,” ujar Reni, Senin (26/5/2025).
Kondisi kemarau basah juga berdampak pada mundurnya musim kemarau kering di DIY.
Sebelumnya, BMKG Yogyakarta memprediksi bulan Mei sudah memasuki musim kemarau.
Namun kini awal musim kemarau terjadi pada dasarian satu bulan Juni.
Jika dibandingkan dengan normalnya musim kemarau, Reni menyebut, prediksi awal musim kemarau tahun ini mengalami kemunduran hingga tiga dasarian.
Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Juli mendatang dengan durasi musim kering sekitar 4-5 bulan.
Selama masa kemarau basah, dia juga meminta agar masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan.
Sekaligus menyiapkan langkah antisipatif.
Sebab ada peringatan dini curah hujan tinggi pada dasarian tiga Mei 2025 dengan kategori waspada pada daerah-daerah rawan banjir maupun longsor.
“Selain itu, adanya potensi kemarau 2025 cenderung basah juga perlu dilakukan penyesuaian pola tanam yang sesuai dengan kondisi iklim terkini,” pesan Reni.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menghimbau, agar masyarakat untuk tetap waspada dan rutin memantau informasi cuaca.
Serta melakukan langkah mitigasi secara mandiri di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Menurutnya, BPBD Kota Jogja sudah secara aktif menyebarkan informasi perkembangan cuaca dari BMKG kepada masyarakat melalui berbagai kanal.
Misalnya melalui grup whatsapp pengurus Kampung Tangguh Bencana (KTB) dan media sosial resmi.
“Kami juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” terangnya. (inu)
Editor : Meitika Candra Lantiva