RADAR JOGJA – Sebuah video memperlihatkan perdebatan antara remaja viral yang sudah lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) dengan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.
Hal yang menjadi alasan perdebatan tersebut adalah yakni wisuda atau perpisahan sekolah.
Dedi mengatakan dalam video tersebut bahwa hanya di Indonesia TK, SD, SMP dan SMA yang ada wisudanya.
“Wisuda itu harusnya untuk siapa? Anak yang sudah selesai kuliah,” ujar Dedi.
Meskipun begitu, remaja tersebut masih tetep kekeh dengan pendapatnya sendiri terkait wisuda ataupun perpisahan.
“Duit perpisahan dari siapa? Orang tua, kan jadinya beban. Terus kalo tanpa perpisahan sekolah bisa bubar?,” tambah Dedi.
“Tanpa perpisahan memang tidak ada kenangan? Kenangan itu bukan saat perpisahan namun saat tiga tahun sekolah itu,” lanjutnya.
Remaja tersebut tetep ngeyel namun terus dibalikkan logikanya oleh Kang Dedi Mulyadi.
Dedi menjabarkan, hal-hal yang seharusnya dikritik.
"Saya kritik ya, harusnya speak up-nya begini. Kritik gubernur, karena orang tua dibebani untuk pembayaran sekolah, kritik gubernur karena banjir, ini saya senang," ujarnya.
Dia memberikan beberapa solusi untuk tersebut dengan para siswa membuat agenda perpisahan sendiri tanpa melibatkan pihak sekolah.
"Kamu bikin sendiri acara perpisahan, kamu ketuanya, jangan libatkan sekolah karena nanti jadi mungut, nanti sekolahnya dibuli karena dianggap mencari untung dari perpisahan," ujarnya.
"Kamu bikin acara sendiri, kalo busnya terbalik tanggung jawab sendiri," jelasnya.
Dedi berpendapat, remaja perempuan tersebut dirundung oleh warganet karena tidak tepat.
"Ini kritik gubernur karena perpisahan, akhirnya dibully. Dibully karena logikanya tidak tepat," tegasnya.
Editor : Satria Putra Sejati