RADAR JOGJA - Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Avif Rusma menceritakan pengalamannya menjalani ibadah puasa di Jerman. Ramadan tahun ini merupakan kali kedua dilakoni di negara Toni Kroos tersebut. Meskipun bukan yang pertama, tetap tidak mudah menjalani puasa di negeri orang.
Avif mengaku ketika awal-awal adapatasi puasa di Jerman sangat susah alias tidak mudah. Pasalnya, selama di Indonesia dia sangat nyaman sahur dan berbuka dengan mudah. "Sahur bareng teman ketika berbuka azan bersahutan, di Jerman tidak ada azan," katanya saat dihubungi Jumat (7/3).
Kondisinya semakin sulit karena di Jerman sangat sedikit umat Islamnya. Orang Indonesia di Jerman yang beragama Islam juga tidak banyak. Puasa di Jerman menjadikan pengalaman pertamanya harus lebih berusaha untuk dapat berbuka puasa.
Waktu berbuka berbeda-beda karena dipengaruhi kondisi musim cuaca di Jerman. "Pertama puasa di sini jam 3 pagi udah imsak, baru buka puasa jam 9 malam," tambahnya.
Namun, Ramadan tahun ini sudah cukup mudah karena waktu imsak pukul 05.00 dan pukul 18.00 sudah berbuka puasa. Namun, itu harus rajin-rajin buka aplikasi karena azan sangat sedikit bergema.
Pasalnya, Avif yang tinggal di Dorfrestran merupakan kota kecil yang jarak tempuhnya bisa dua jam ke Hamburg, yang menjadi kota besarnya. Budaya berpuasa di Jerman sangat jauh berbeda.
"Di sini tidak ada ngabuburit. Takjilan juga tidak ada, kecuali di Hamburg, baru ada takjilan kecil-kecilan," tuturnya. Kondisi cuaca di Jerman juga menjadi perbedaan puasa yang dijalaninya. Ramadan ini cuacanya sangat sejuk sehingga tidak mudah dehidrasi.
Selain itu, ada juga WNI lainnya Rizki Nurohman yang sudah menjalani Ramadan ketiga di Jerman. Dia pun menceritakan, puasa pertama di Jerman pada 2023 lalu sangat berat. Apalagi saat itu hampir mendekati musim panas.
"Waktu Maghrib-nya jadi lebih lama. Jadi jam 7 malam baru buka," tuturnya. Masjid Turki di Jerman menjadi andalannya, meskipun jumlahnya sedikit. Sedangkan saat puasa di Jerman rentang waktunya setiap hari berbeda-beda.
Vibes puasa di Jerman berbeda karena tidak ada ngabuburit dan sulit melakoni salat tarawih. Pasalnya, tarawih yang di Indonesia terasa karena banyak masjid melaksanakannya. Di Jerman malah sebaliknya, sehingga sulit merasakan tarawih. (rul/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita