RADAR JOGJA - Berlibur dengan keluarga di Yogyakarta memang merupakan pilihan yang tepat sebab banyak destinasi serta situs yang dikunjungi. Setiap Kabupaten serta kota memiliki cir khasnya masing-masing. Tak ketinggalan tempat wisata religi seperti gereja ataupun Gua Maria. Gunungkidul dan Kulon Porogo merupakan dua kabupaten yang terdapat banyak Gua Maria. Hal ini disebabkan kedua kabupaten tersebut masih terjaga keasrian alamnya sehingga cocok untuk fokus berdoa secara khusyuk.
Namun, apabila sedang berlibur atau tinggal di daerah Sleman dan ingin berziarah ke Gua Maria tanpa harus ke Gunungkidul maupun Kulon Progo, tidak perlu khawatir. Daerah Sleman pun juga memiliki Gua Maria yang tak kalah asri dan nyaman untuk mengolah fokus untuk berdoa atau sekadar mencari ketenangan dari lelahnya aktivitas. Berikut rekomendasi Gua Maria yang ada di Sleman, yaitu:
1. Gua Maria Sendang Sriningsih
Jika sedang berada di Prambanan atau di daerah sekitarnya, Gua Maria ini dapat menjadi pilihan bila ingin berziarah. Gua Maria yang dimaksud adalah Gua Maria Sendang Sriningsih. Sendang Sriningsih sendiri berarti “perantara rahmat Tuhan pada umat-Nya”. Gua Maria yang terkenal akan mata air abadi terletak di Gayamharjo, Prambanan.
Gua Maria Sendang Sriningsih dibangun oleh seorang Jesuit bernama D. Hardjosuwondo SJ yang kala itu memang sedang mengemban tugas pengembalaan di dusun Jalil. Tempat itupun dahulu bernama Sendang Duren. Jikalau berkunjung bertepatan pasa setiap Sembilan kali setahun pada Jumat Kliwon, ada misa yang memadukan budaya Jawa dan agama Katolik.
2. Gua Maria Penolong Abadi, Pojok
Taman Doa atau Gua Maria Penolong Abadi ini berada di Pojok, Sendangagung, Minggir, Sleman. Gua Maria berada di sisi timur utara Gereja Katolik St Alfonsus Nandan. Salah satu sudut di mana terdapat tembok batu yang tengahnya terdapat patung Bunda Maria menggendong Bayi Yesus. Di tembok trsebut tertulis Mater Maria De Perpetuo Succursu yang merupakan bahasa latin dari Bunda Maria Penolong abadi.
Gua Maria ini diberkati oleh Vikaris Episkopalis Kevikepan DIY, Romo Andirianus Maradiya pada tanggal 30 April 2019. Dikarenakan berada sisi timur utara gereja, Gua Maria ini dekat dengan tempat beristirahatan terakhir para imam Congregatio Sanctissimi Redemptoris (CSsR) atau Kongregasi Sang Penebus Mahakudus sehingga umat dapat tutut mendoakan istirahat kekal untuk para imam.
3. Gua Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih
Letak Geografis Gua Maria ini adalah dusun Jitar, Desa Sumber Arum, Kecamatan, Moyudan, Kabupaten Sleman, 17 km di barat kota Yogyakarta. Dahulu Gua ini bernama Sendang Pusung, dimana Pusung adalah singkatan dari kalimat berbahasa Jawa “sing ngapusi busung” yang berarti siapa yang berbohong akan terkena tulah. Setelah dibangun Gua Maria, nama Sendang Pusung berganti menjadi Sendang Jatiningsih yang memiliki arti sumber air dari rahmat Tuhan yang mendatangkan kedamaian.
Gua Maria dekat dengan pinggir aliran sungai Progo dan terasa asri serta sejuk sehingga disematkan nama “Sendang”. Gua Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih atau lebih dikenal Gua Meria Jatiningsih diresmikan pada tahun 1986 dan tahun 1999 direnovasi. Uskup Agung Semarang pernah melakukan pemberkatan pada tanggal 17 Desember 2000.
4. Gua Maria Tebonan
Jika berada di kawasan Kaliurang terutama sekitar lereng merapi, Gua Maria Tebonan menjadi rekomendasi bagi yang ingin tetap berdoa di sela-sela menikmati perjalanan di daerah merapi. Gua Maria Tebonan, Harjobinangun, Pakem, Sleman.
Gua Maria ini memang terletak di pertengahan kampung sehingga untuk akses parkit masih terbatas. Namun, bila ingin berdoa khusyuk dengan suasa lebih sejuk sambil menikmati pemandangan Merapi, Gua Maria Tebonan dapat menjadi pilihan yang pas.
Inilah rekomendasi Gua Maria yang berada di Kabupaten Selaman yang bisa dimasukkan ke daftar tempat wisata religi untuk berdoa di sela-sela jalan-jalan wisata ke tempat lain terlebih merayakan Nagtal bersama keluarga. Berdoa bersama keluarga bisa terasa tenang dan bermakna di liburan sehingga kebersamaan semakin terasa.
(Anastasia Srinovanda Cahyaningrum)
sumber: berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin