RADAR JOGJA - Dyah Arviyanti, salah seorang pengidap AIDS di Jogja berharap para pengidap HIV/AIDS mendapatkan hak kesetaraan seperti masyarakat lainnya. Mengingat pada peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini mengangkat tema 'Hak Setara untuk Semua, Bersama Kita Bisa'.
Dikatakan perempuan yang sudah mengidap AIDS sejak 2006 ini, orang yang punya HIV/AIDS juga punya hak yang sama dengan orang lain. Seperti hak untuk mendapatkan akses layanan kesehatan yang setara, inklusif, dan berkualitas.
Selain itu juga hak untuk akses informasi yang komprehensif, hak mendapatkan perlindungan hukum, mendapatkan hak untuk mengakses pendidikan dan pekerjaan yang berkesetaraan, serta hak atas pelayanan publik dan kesejahteraan lainnya.
"Seperti temannya di tahun 2024 ini, maka kami ingin hak untuk setara. Jadi orang dengan HIV/AIDS atau ODHA itu juga punya hak yang sama dengan orang lain," tandasnya Minggu (1/12/2024).
Pada kesempatan ini Dyah membagikan pengalamannya. Meskipun telah hidup dengan HIV selama 18 tahun, ia mengaku beruntung karena tidak mengalami stigma dan diskriminasi dari keluarga dan lingkungan terdekat.
Akan tetapi pengalaman pahit pernah ia alami saat periksa di sebuah layanan kesehatan. Dyah menceritakan pada 2018 lalu saat hamil dan menjalani terapi ARV, ia masih sering dihadapkan pada stigma negatif dari tenaga kesehatan (nakes).
"Jadi petugas tenaga kesehatan masih menggunakan nilai-nilai pribadi ketika melayani pasien. Contohnya saya yang perempuan pengidap HIV, pasti image-nya perempuan nakal. Padahal justru di masyarakat malah perempuan dengan pengidap HIV itu kebanyakan malah ibu rumah tangga," ungkapnya.
Tapi kini Dyah merasa bersyukur karena kondisi kesehatannya terbilang sangat baik dan ia pun juga telah menemukan layanan kesehatan yang lebih inklusif. Dyah pun kini masih rutin menjalani pengobatan di puskesmas.
Di DIY sendiri itu untuk pengobatan ARV atau HIV bisa diakses ke puskesmas, tapi tidak di semua puskesmas. Ada beberapa Puskesmas Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) yang menyediakan obat untuk ARV atau HIV.
"Banyak kok di DIY. Di semua kabupaten ada. Kalau saya cuma menjalani terapi di puskesmas saja. Kalau untuk penunjang lain olahraga aja. Obat di puskesmas gratis, disubsidi oleh pemerintah," katanya.
Puskesmas mendapatkan akses gratis terhadap obat-obatan ARV. "Sekarang menjalani pengobatan di puskesmas. Jadi di DIY sendiri itu untuk pengobatan ARV atau HIV bisa diakses di puskesmas, tapi tidak di semua puskesmas," jelasnya.
Secara pribadi Dyah juga berharap di Hari AIDS Sedunia 2024 ini target yang telah dicanangkan oleh pemerintah yakni target 90-90-90 itu bisa tercapai. Perempuan yang menjabat koordinator pendukung sebaya wilayah Jogja di Yayasan Victory Plus Jogja ini ingin 90 persen ODHA mengetahui status HIV-nya. Lalu 90 persen ODHA yang mengetahui statusnya mendapat pengobatan dan dukungan Anti Retro Viral (ARV). Dan 90 persen ODHA yang mendapatkan ARV mengalami supresi virus. "Semoga di tahun 2030 hal itu bisa tercapai," tegasnya.
Tak hanya itu, Dyah juga ingin di tahun 2030 nanti program Three Zero HIV juga bisa terlaksana, yakni Zero New Infection yaitu tidak ada infeksi HIV baru, Zero Related Deaths yaitu tidak ada kematian akibat HIV/AIDS, dan Zero Stigma and Discrimination, yaitu tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.
"Pesan saya, balik lagi seperti tema di Hari AIDS Sedunia tahun ini adalah hak untuk setara. Jadi orang yang terkena HIV/AIDS itu punyak hak yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya," katanya.
Dyah menyebut, tidak perlu mendapatkan stigma. "Karena kami punya hak yang sama dan hak itu dijamin undang-undang. Harapannya, selain tidak ada stigma diskriminasi, rangkul kami. Karena kami juga saudara kalian," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita