RADAR JOGJA - Persebaran angka kasus HIV/AIDS di DIY masih menjadi perhatian utama. Meskipun tren penularan cenderung mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir.
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY terus berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan HIV/AIDS. Juga perilaku seksual sehat melalui berbagai layanan edukasi, skrining, dan konseling.
Manajer Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) PKBI DIY Agus Triyanto mengatakan, salah satu tantangan besar dalam upaya pencegahan HIV/AIDS adalah fenomena gunung es. Di mana banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala AIDS selama bertahun-tahun. Sebab masa inkubasi virus HIV cukup lama. Bisa terdeteksi 5-10 tahun usai melakukan perilaku seksual berisiko.
Banyak kasus baru terdeteksi hanya ketika seseorang sudah memasuki fase AIDS dan mulai mengalami gejala infeksi yang lebih serius. Oleh karena itu, PKBI menekankan pentingnya kesadaran dini untuk melakukan pemeriksaan skrining HIV. Terutama bagi mereka yang memiliki perilaku seksual berisiko.
“Kesadaran kesehatan masih minim. Selama masih bisa ditahan, orang kemudian jarang datang ke layanan kesehatan. Ketika berperilaku birisiko, sebaiknya datang ke layanan sedini mungkin,” kata Agus kepada Radar Jogja, Minggu (1/12/2024).
Dia menjelaskan, selama lima tahun terakhir, tren penularan HIV/AIDS di DIY menunjukkan pergeseran. Kelompok ibu rumah tangga mengalami kenaikan pada periode 2015 hingga 2020. Namun sejak kisaran 2020, kelompok yang paling banyak terinfeksi adalah lelaki yang melakukan hubungan seks dengan lelaki (LSL).
Meskipun demikian, PKBI menekankan HIV/AIDS bukan hanya penyakit yang mengancam kelompok tertentu saja. Tetapi dapat mengenai siapa saja yang melakukan perilaku seksual tidak aman.
“Semua punya potensi yang sama ketika perilaku seksualnya tidak aman. Atau memang memiliki faktor risiko, apapun profesinya atau orientasi seksualnya,” ucap Agus.
Sementara kelompok usia yang paling rentan terhadap penularan HIV/AIDS di DIY adalah mereka yang berusia 20-29 tahun. Diikuti kelompok usia 30-39 tahun. Perilaku berisiko yang dilakukan pada masa remaja dapat berkontribusi pada angka penularan HIV/AIDS dalam 5-10 tahun ke depan.
Dari segi pekerjaan, kelompok wiraswasta, mahasiswa, dan ibu rumah tangga tercatat memiliki risiko penularan tinggi. “Secara angka kumulatif, heteroseksual masih mendominasi risiko penularan tertinggi, ada di angka 4.371. Sementara homoseksual ada di 1.852, karena LSL belum tentu orientasinya homoseksual, bisa saja fantasi seksualnya berbeda,” jelas Agus.
Dia menyebut, Jogjakarta menjadi salah satu daerah dengan potensi tinggi untuk perilaku seksual berisiko. Lantaran banyaknya kampus dan hunian kos tanpa pengawasan orang tua atau induk semang.
Para remaja dan mahasiswa yang tinggal di indekos tanpa pengawasan cenderung lebih bebas melakukan perilaku seksual yang tidak aman. Seperti gonta-ganti pasangan atau tidak menggunakan alat kontrasepsi.
Sementara persebaran paling tinggi di DIY ada di Sleman, karena banyaknya perguruan tinggi dan lokasi hiburan. “Usia remaja adalah masa peralihan, kemudian dorongan seksualnya muncul. Ketika tidak bisa mengelola itu, maka sangat mudah terjerumus pada perilaku seksual yang tidak aman,” ujar Agus.
Dia menjelaskan, gejala AIDS yang umum adalah penurunan berat badan drastis dan diare berat. Namun setiap orang dapat mengalami gejala yang berbeda. Dalam hal biologis, perempuan lebih rentan terinfeksi HIV dibandingkan laki-laki. “Karena penampang organ reproduksi perempuan lebih luas dan rentan terhadap iritasi,” bebernya.
Oleh karena itu, PKBI menekankan pentingnya penguatan sosialisasi dan kampanye melalui berbagai platform, termasuk media sosial. Guna membangun kesadaran masyarakat mengenai bahaya HIV/AIDS.
PKBI juga telah membuka layanan hotline konseling untuk membantu masyarakat yang membutuhkan informasi atau dukungan terkait HIV/AIDS. "Kalau bicara penanggulangan di DIY, akan jauh lebih settle dibanding provinsi lain karena jaringan lembaganya cukup solid dalam berkoordinasi hingga advokasi ke negara,” tandas Agus. (tyo/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita