RADAR JOGJA - Warganet di gemparkan oleh aksi pembacokan yang terjadi di Madura.
Di muka umum lima orang membawa senjata tajam mirip celurit dan mulai melakukan aksi kekerasan kepada seorang korban yang diketahui sebagai pendukung salah satu calon Bupati Sampang Madura.
Akibatnya korban dinyatakan tidak selamat.
Peristiwa ini dapat dikatakan sebagai salah-satu kebiasaan dari masyarakat Madura, yaitu berasal dari tradisi carok.
Selama rentang waktu 2024, dilaporkan sudah beberapa kali carok menelan korban jiwa.
Carok sendiri merupakan sebuah tradisi di Madura yang berbentuk pertarungan senjata tajam antara satu lawan satu atau lebih, memungkinkan terjadinya pertumpahan darah.
Tradisi ini terdengar sadis bagi masyarakat di daerah lain, tapi berdasarkan sejarahnya carok sudah menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun di Madura, dan istilah carok muncul sekitar abad ke-18 pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
Jika membahas carok berdasarkan bahasa, maka carok dapat diartikan sebagai ‘ecaeca erok-erok’ yang berarti dibantai atau dicacah.
Carok dalam bahasa Kawi kuno berarti perkelahian. Orang Madura sendiri menamai tradisi perkelahian ini sebagai ‘Carok’ yang berasal dari bahasa mereka berarti ‘bertarung dengan kehormatan’.
Sejarah mengungkapkan bahwa Carok mulanya merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri melalui pertarungan bersenjata menggunakan pedang atau keris.
Namun, pada masa kerajaan simbol memperjuangkan harga diri dengan pembunuhan bersenjata belum dikenal sebagai carok.
Tradisi ini muncul dari legenda Pak Sakera atau Sagiman, seorang mandor tebu di Pasuruan yang selalu membawa celurit (sabit monteng) selama melakukan pengawasan di perkebunan tebu.
Pak Sakera atau Sagiman merupakan seorang Blater di Madura.
Blater sendiri adalah sebutan untuk orang kuat (jagoan) atau jawara di Madura.
Dalam kisahnya Pak Sakera telah memperjuangkan hak-hak buruh di Pasuruan yang mayoritas orang Madura.
Diketahui bahwa dulu masyarakat Madura pernah melakukan migrasi ke Jawa Timur karena alasan geografis di pulau Madura yang tidak menguntungkan untuk dunia pertanian, sehingga orang Madura melakukan migrasi ke Jawa Timur yang diperkirakan dimulai pada tahun 1806.
Dalam perjuangannya, Pak Sakera harus menemui nasib tragis di mana ia ditangkap dan dibunuh.
Namun ternyata, kematiannya justru memicu semangat juang masyarakat.
Kematian Pak Sakera disebabkan keserakahan Carik Rambang yang dihasut oleh Bangsa Belanda supaya memperluas lahan perkebunan dengan menindas rakyat biasa.
Sikap menegakkan keadilan Pak Sakera membuatnya tak jarang terlibat dalam duel maut untuk melindungi hak para pemilik lahan, sampai akhirnya Pak Sakera yang sebenarnya bernama Sagiman dituding sebagai pembunuh, dan membuatnya mendapatkan julukan Sakerah yang berarti pandai ber-kerah atau bertanding.
Keberadaan Pak Sakera tentunya menyulitkan aksi Carik Rambang, sehingga membuat pihak belanda melakukan strategi pembunuhan dengan menyewa seorang jagoan lokal bernama Markasan untuk membunuhnya.
Perjalanan Pak Sakera selalu lekat dengan senjata berbentuk celurit (sabit Monteng) menjadi salah satu alasan timbulnya stigma kekerasan di kalangan masyarakat Madura terhadap para pengguna sabit monteng, yang sekaligus merusak nama baik Sagiman atau pak Sakera.
Melalui kisah pak Sakera timbullah konsep penyelesaian masalah yang dilakukan dengan cara kekerasan atau carok.
Cara ini sering kali dilakukan demi menjunjung harga diri dan kehormatan, kemudian timbul peribahasa “katembheng pote mata, ango’a poteya tolang” yang artinya ketimbang putih mata, lebih baik putih tulang.
Peribahasa ini bermakna daripada menanggung malu, lebih baik berkalang di tanah.
Carok merupakan jalan penyelesaian masalah yang sering digunakan orang Madura, karena lahir dari ajaran Belanda yang menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan, dan merupakan hasil adu domba antar suku bangsa.
Pada zaman sekarang carok tidak lagi sebatas perkelahian menggunakan sabit monteng, tapi perkelahian menggunakan senjata tajam hingga ada yang tewas, masyarakat akan langsung menilai telah terjadi carok.
(Marina Juliana, Berbagai Sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin