RADAR JOGJA – Kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS pada Rabu (6/11/2024) mengangkat kembali pertanyaan besar mengenai masa depan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Meraih suara populer terbanyak dan suara elektoral di atas ambang batas, Trump berhasil mengamankan kursi kepresidenan. Namun, apa dampak kemenangan ini bagi Iran?
Trump Siap Kembali Menekan Iran dalam Isu Nuklir
Ketegangan AS-Iran telah berlangsung lama, terutama terkait program nuklir Iran yang selalu menjadi sorotan Washington.
Saat menjabat sebagai Presiden AS pada periode 2016-2020, Trump dikenal sebagai tokoh yang paling vokal menentang pengembangan nuklir Iran.
Pada 2018, ia bahkan menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), menunjukkan sikap tegas AS terhadap Iran.
Pakar kebijakan nuklir dan keamanan Timur Tengah dari Universitas Princeton, Sayyid Hossein Mousavian, memperkirakan bahwa Trump akan kembali bersikap keras terhadap isu nuklir Iran di periode kedua kepemimpinannya.
Menurut Mousavian, pendekatan ini merupakan bagian dari janji Trump untuk meredakan konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Iran dan Israel yang terus meningkat.
Langkah Normalisasi dan Tantangan Hubungan Iran-AS
Mousavian juga memprediksi bahwa Trump mungkin akan mendorong upaya untuk menormalisasi hubungan antara Iran dan negara-negara Barat.
Menurutnya, stabilitas Timur Tengah tidak cukup hanya dengan perbaikan hubungan regional, tetapi membutuhkan kerja sama yang lebih harmonis antara Iran dan kekuatan Barat.
Baca Juga: Bookstore Shira Media Jogja: Nikmati Membaca Buku di Tempat yang Nyaman Sambil Menyeruput Kopi
Mousavian menyebut keterlibatan AS, dengan dukungan NATO, sebagai langkah penting dalam menangani ancaman nuklir jika Iran memperkuat kemampuan militernya.
Namun, upaya Trump untuk menormalisasi hubungan Iran dengan Barat bukan tanpa rintangan.
Pemerintah Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei telah berulang kali menyatakan sikap tegas menolak perdamaian dengan Barat.
Khamenei bahkan menegaskan bahwa rekonsiliasi dengan Barat dapat membawa Iran pada posisi rentan.
Menurutnya, bernegosiasi dengan pihak Barat yang kerap mengingkari komitmen hanya akan memperlemah posisi Iran.
Mousavian menyimpulkan bahwa Trump akan menghadapi tantangan besar dalam upaya membawa Iran tunduk pada AS dan membuka jalan untuk normalisasi hubungan dengan Barat.
Langkah ini membutuhkan diplomasi ekstra keras dan upaya berkelanjutan untuk mengubah dinamika hubungan AS-Iran yang telah lama tegang.
Editor : Winda Atika Ira Puspita