Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Miris! Bayi 19 Bulan di Malaysia Didiagnosis Kanker Ovarium, Penyakit yang Umumnya Menyerang Wanita Dewasa

Izzatul Akmal Fikri • Selasa, 15 Oktober 2024 | 22:51 WIB

Ilustrasi bayi.
Ilustrasi bayi.

 
RADAR JOGJA - Seorang bayi berusia 19 bulan yang diidentifikasi dengan inisial D di Malaysia baru-baru ini didiagnosis menderita kanker ovarium, sebuah penyakit yang biasanya menyerang wanita dewasa.

Ibu D, Fallarystia Sintom merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi anaknya pada bulan Agustus lalu.

Awalnya, D mengalami gejala sembelit dan perut kembung, ditambah lagi dengan tingkat aktivitas yang menurun, membuatnya hanya ingin digendong.

Fallarystia menjelaskan, bahwa anaknya tidak merasa nyaman dan karena belum bisa berbicara, D hanya bisa menangis ketika merasakan sakit.

Keluarga D pun berusaha mencari pengobatan yang tepat, awalnya mengira bahwa anaknya hanya mengalami gangguan pencernaan.

Namun, setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter menemukan adanya tumor berukuran 13,5 sentimeter dalam tubuh bayi tersebut.

Setelah menjalani operasi pada 2 Oktober 2024, dokter mendiagnosis D menderita kanker ovarium stadium tiga.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kanker sudah menyebar dari indung telur ke bagian luar panggul, seperti perut, kelenjar getah bening, atau permukaan hati.

Kanker ovarium lebih umum dialami oleh perempuan berusia di atas 40 tahun, sehingga kasus seperti ini terbilang sangat jarang terjadi pada anak-anak, apalagi bayi.

Berdasarkan informasi dari Boston Children's Hospital, angka kejadian kanker ovarium pada bayi hingga anak usia 17 tahun diperkirakan hanya satu persen dari semua jenis tumor ganas.

Di antara anak perempuan di bawah usia delapan tahun, sebagian besar kasus tumor ovarium bersifat jinak atau non-kanker.

Laporan dari De Gruyter pada tahun 2001 juga menunjukkan bahwa kista ovarium lebih umum terjadi pada anak balita di bawah dua tahun dibandingkan tumor atau kanker ovarium.

National Library of Medicine (NLM) menegaskan bahwa tumor ovarium yang ganas sangat jarang terjadi pada anak.

Risiko kanker ovarium meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagai gambaran, angka kejadian pada bayi berumur satu tahun adalah 0,43 per 100.000 kasus, sedangkan pada penderita berusia 35 tahun angkanya mencapai 152 per 100.000 kasus.

Meskipun kasus bayi berusia 19 bulan menderita kanker ovarium bukanlah hal baru di dunia kesehatan, hal ini tetap menggugah perhatian.

Penelitian yang diterbitkan oleh JAMA pada tahun 1948 menunjukkan bahwa operasi tumor ovarium pertama kali dilakukan pada seorang anak berusia 13 tahun pada tahun 1866.

Sementara itu, seorang gadis berusia delapan tahun berhasil dioperasi setelah memiliki tumor ovarium seberat 7,5 kg pada tahun 1882.

Penyebab kanker ovarium pada bayi seringkali terkait dengan faktor genetik. Menurut informasi dari Cancer Research UK, anak-anak yang mengalami kelainan genetik BRCA1 dan BRCA2 yang diturunkan sejak lahir berisiko lebih tinggi terkena kanker ovarium.

Selain itu, bayi atau anak perempuan yang memiliki ibu atau saudara perempuan dengan riwayat kanker ovarium juga memiliki risiko yang meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan anak-anak yang tidak memiliki riwayat tersebut.

Faktor risiko lainnya termasuk obesitas, diabetes, paparan lingkungan dengan perokok, dan tinggal di sekitar bangunan dengan atap asbes
Cleveland Clinic mencatat bahwa gejala kanker ovarium pada bayi dapat meliputi nyeri panggul atau perut, perubahan kebiasaan makan, perut yang membesar, dan frekuensi buang air kecil yang meningkat.

Mengingat gejala yang dialami D, para orangtua yang mendapati kondisi serupa pada anak-anak mereka disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Diagnosis yang tepat biasanya melibatkan pemeriksaan fisik, tes darah, dan evaluasi bedah seperti laparoskopi.

Jika diagnosis kanker ovarium terkonfirmasi, pasien akan menjalani serangkaian perawatan yang mungkin termasuk operasi, kemoterapi, terapi hormon, atau radiasi.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Malaysia #bayi #bayi kanker ovarium #kanker ovarium #kanker ovarium pada bayi #Bayi di malaysia