RADAR JOGJA - Magang menjadi salah satu program wajib yang diterapkan di banyak universitas. Namun belakangan ada fenomena baru, di mana tidak sedikit mahasiswa yang melakukan magang tambahan secara independen di luar kewajiban kampus atau tidak masuk KRS.
Dosen Prodi Kebijakan Pendidikan dan Koordinator Kajian Ilmu Pendidikan FIPP UNY Ariefa Efianingrum mengamati, magang lebih dari sekali memang lazim dilakukan mahasiswa. Salah satu alasannya, karena memang proses pencarian kerja hari ini cenderung agak sulit.
"Saya menyadari ada fenomena gelombang PHK di beberapa daerah dari multiindustri. Akhirnya pengangguran meningkat, karena tugas tergantikan oleh artificial intelligence (AI) atau mesin," katanya kepada Radar Jogja, Minggu (13/10/2024).
Dengan situasi itu, banyak mahasiswa akhirnya memutuskan untuk menambah jam terbang melalui magang. Secara dominan orientasinya bukan karena insentif atau gaji, melainkan karena mencari pengalaman.
"Saya kira motivasinya lebih ke pengamalan, bukan gaji. Apalagi magang di industri yang tidak terlalu besar, mungkin insentif yang didapat juga tidak besar," urainya.
Sementara jika menilik dari karakteristik mahasiswa saat ini, yang didominasi generasi Z, Ariefa menyadari, ada kecenderungan di mana mereka juga cukup pemilih soal pekerjaan yang diinginkan.
"Banyak juga yang terlalu pemilih dan terlalu banyak pertimbangan. Salah satu yang dicari adalah kerja work from anywhere (WFA) yang tidak formal," ungkapnya.
Situasi terjadi ketika ada lowongan pekerjaan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan mereka. Kesempatan itu mungkin juga tidak akan diambil atau mereka tidak berusaha melamar.
"Perusahaan banyak yang memberi regulasi dan kesepakatan di awal soal durasi atau kontrak kerja. Ini untuk mengikat anak-anak muda agar tidak pindah kerja secara tiba-tiba," paparnya.
Disebutkan, para mahasiswa kini lebih dominan untuk mencoba dan mengeksplorasi hal-hal baru. Termasuk suka berganti profesi dan tempat kerja dalam periode yang singkat. "Tampaknya kalau dicermati lebih dalam, ini bukan saja kasuistik, tapi ini fenomena gen Z," terangnya.
Lebih lanjut opsi lain yang banyak dilakukan para mahasiswa ketika belum mendapat pekerjaan adalah memutuskan untuk melanjutkan studi lanjut. "Hari-hari ini banyak mahasiswa yang setelah lulus S1 langsung studi lanjut tanpa ada jeda kerja sama sekali," lontarnya.
Diakui, beberapa mengambil studi lanjut karena mendapat beasiswa. Namun untuk yang tidak memiliki beasiswa, alasan studinya lebih karena kesadaran untuk meningkatkan kompetensi diri guna bersaing dengan dinamika dunia yang kerja kian kompetitif.
"Ada kemungkinan mereka menghindari proses pencarian kerja dan memilih meningkatkan kompetensi agar siap setelah punya gelar S2. Bisa juga setelah itu mereka langsung jadi dosen atau tenaga pendidik. Itu banyak terjadi," ungkap Ariefa. (iza/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita