Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

“Ngopi”, Ngobrol Perkara Transportasi Mobilitas Berkelanjutan Evaluasi Trans Jogja hingga Antisipasi Beroperasinya Jalan Tol

Agung Dwi Prakoso • Kamis, 12 September 2024 | 05:31 WIB

   

TRANSPORTASI MASA DEPAN: Suasana “Ngopi” yang diinisiasi Dinas Perhubungan DIY dengan menghadirkan sejumlah pakar dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi.
TRANSPORTASI MASA DEPAN: Suasana “Ngopi” yang diinisiasi Dinas Perhubungan DIY dengan menghadirkan sejumlah pakar dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi.

 RADAR JOGJA - Sebuah diskusi bertajuk “Ngopi”, Ngobrol Perkara Transportasi diinisiasi Dinas Perhubungan DIY. Ngopi tersebut mengusung tema "Mobilitas Berkelanjutan Menuju Yogyakarta Istimewa" . Ngopi menghadirkan sejumlah narasumber seperti  Anggota DPRD DIY Amir Syarifudin, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Tory Damantoro serta Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM Ikaputra.

 

Ada juga beberapa akademisi. Mulai Muhammad Rizka Fahmi Amrozi dari UGM, Nindyo Cahyo Krisnanto mewakili Universitas Janabadra (UJB) dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) diwakili Okkie Putriani.  Peserta diskusi melibatkan mahasiswa jurusan teknik sipil dari berbagai universitas. Ngopi itu sebagai refleksi lima tahun transportasi DIY.

“Ngopi membahas isu transportasi angkutan umum. Hal yang banyak disorot  untuk lebih menyempurnakan sistem mobilitas Trans Jogja. Itu menjadi pekerjaan rumah (PR) kami,” ujar Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DIY Rizki Budi Utomo di sela Ngopi, kemarin (11/9).

  Dikatakan, DIY telah mendapatkan penghargaan Wahana Tata Nugraha Wiratama dari pemerintah pusat. Penghargaan itu harus dapat dipertahankan.  Ngopi juga merumuskan pemberian pelayanan yang lebih maksimal kepada masyarakat. Aspek kinerja layanan lalu lintas,  masalah ketertiban dan keselamatan perlu ditingkatkan. Data kecelakaan di DIY sampau saat ini termasuk tertinggi di Indonesia.  Lagi-lagi itu menjadi PR. Alasannya, termasuk dalam lima pilar keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ)..

Diskusi juga membahas prediksi ke depan saat wilayah DIY dilalui jalan bebas hambatan atau tol yang berpotensi menambah volume kendaraan. Ini perlu diantisipasi. Salah satunya dengan penggunaan teknologi AI (Artificial Intelegence) untuk proses penanganan lalu lintas.

Saat ini Dinas Perhubungan DIY sudah punya masterplan intelegen transport system. Salah satu cabangnya Area Trafic Control System (ATCS). “Kami telah gunaka ATCS sejak 2012," jelasnya.

 ATCS berfungsi mengontrol lampu lalu lintas di  simpang melalui ruang CCTV di kantor Dinas Perhubungan DIY Jalan Babarsari, Depok, Sleman. ATCS tersebut  bakal ditingkatkan kapasitasnya agar lebih cerdas dalam mengolah data transportasi.

 "Dari kamera bisa menghitung jumlah kendaraan yang lewat. Jumlah yang belok ke kanan atau kiri dan secara otomatis memberikan respons terhadap nyala lampu lalu lintas," beber birokrat asal Surakarta ini.

Selain itu, data yang terkumpul dalam sistem  bisa mempermudah instansinya memberikan keputusan yang spesifik bila terjadi kemacetan. Ngopi menyepakati perlunya evaluasi kinerja demi perbaikan di masa datang.

Anggota DPRD DIY Amir Syarifudin menambahkan,  kinerja Dinas Perhubungan DIY perlu diapresiasi. Khususnya dalam pelibatan generasi muda  membangun perhubungan DIY. “Setidaknya anak muda mulai paham dengan masalah transportasi,” katanya.  Amir mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan transportasi umum. Sebagai daerah tujuan wisata, rute menuju destinasi wisata harus terlayani dengan baik.

Dia ingin angkutan umum bisa melayani masyarakat di perdesaan. Tidak hanya perkotaan. Itu bisa dilakukan dengan penataan sistem dan jalur Trans Jogja.  "Penerapan tarif sudah bagus,  namun wajib diikuti dengan kemudahan titik angkut dan rute yang banyak," pintanya.

Sampai saat ini masyarakat perdesaan masih kesulitan menjangkau fasilitas Trans Jogja. Sebab, Trans Jogja hanya beroperasi di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul (Kartamantul).  Jam operasional, Trans Jogja perlu dikaji kembali agar lebih efisien.

"Integrasikan antara kereta dan angkutan umum lainya karena kalau semua wisatawan yang masuk ke DIY memakai kendaraan pribadi jadi macet," bebernya.  Narasumber lainnya menyampaikan evaluasi sesuai dengan bidangnya masing-masing. (oso/kus)

Editor : Herpri Kartun
#DPRD DIJ #Dinas Perhubungan #ngopi